Suka duka menyambut dan merayakan Idul Fitri di Austria

336 Views

Puasa adalah ibadah wajib umat Islam di bulan Ramadan selama sebulan penuh. Manakala bulan ini akan berakhir, nampak kesedihan karena akan berpisah dengan bulan yang penuh rahmat. Kita tidak pernah tahu akan berjumpa bulan Ramadan berikutnya atau tidak. InsyaAllah aamiin masih bisa berjumpa ya.. karena itulah bulan ini selalu dirindukan kehadirannya

Di sepuluh hari Ramadan terdapat lailatul qadar, malam penuh kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan. Allah tidak menyebutkan kapan tepatnya malam itu datang, agar umat selalu bersemangat dan berusaha meraihnya dengan amalan terbaik. Meski demikian, hadis nabi mengisyaratkan bahwa malam lailatul qadar ini ada pada malam ganjil, tetapi tentunya sebagai muslim tidak lantas fokus pada malam ganjil saja ya.. setiap malam sama berharganya beribadah dan beramal sebaik mungkin

Selain itu datangnya malam lailatul qadar juga memiliki tanda-tanda seperti udara yang sejuk dan tenang, tidak berawan, angin berhembus lembut, bulan muncul dengan posisi separuh dan keesokan harinya cahaya matahari cerah namun lebih lembut dan sinarnya tidak mennyengat hingga seang hari

Nah, di akhir-akhir Ramadan juga sudah menjadi kebiasaan kalo di tanah air kita tercinta kaum ibu dan anak gadis turut sibuk menyiapkan hidangan terbaik untuk keluarga, begitu juga dengan ane sewaktu di Indonesia. Tetapi tidak serta merta melupakan malam yang penuh berkah ini ya.. Ibadah makin kencang dan banyak tetap dilakukan 😊

Serunya di Indonesia, tiap-tiap wilayah ada makanan spesial tersendiri, seperti Betawi dengan soto Betawi atau Makasar dengan coto Makasar atau daerah Minang dengan lemangnya.  Tapi pada umumnya di seluruh Indonesia hidangan  untuk keluarga dan juga handai taulan yang selalu hadir adalah kue kering, kue basah, kudapan manis dan asin dengan menu utama antara lain ketupat, soto, rendang, opor, sayur oseng dan sambel hati

Hidangan terbaik dimulai dari kue kering lebaran. Sewaktu belum ada anaknya yang menikah, emak membuat kue untuk keluarga dibantu ane. Kue kering yang dibikin adalah kue yang biasa ada kala lebaran, seperti kue tar (nastar), kue salju, kue kastangel dan lain-lain. Ada juga dari kue arisan. Jaman dulu arisan kue per bulan bayarnya tengah marak. Jadi saat menjelang lebaran bikin kue secukupnya aja karena dah terpenuhi dari kue arisan 😊

Saat anak-anaknya pada menikah dan memiliki menantu, emak hanya bikin sedikit saja kue kering karena menantunya saban menjelang lebaran menyiapkan kue kering yang komplit. MasyaAllah alhamdulillah

Untuk kue basah biasanya dibikin 2 hari menjelang lebaran, biar nampak segar. Kue basah andalan emak ane adalah kue Maksuba dan 8 jam, kue sultan asli Palembang dan wilayah sekitarnya. Ga lupa juga dodol agar. Nah ini bagiannya ane karena bikinnya ga ribet dan ga makan waktu. Dodol agar ini dibuat dari agar-agar tanpa warna, gula pasir, santan kental, susu kental manis warna coklat dan coklat bubuk Van Houten.

Untuk kue lapis legit, menantu emak yang jago bikin kue turunan Belanda ini tidak lupa menghadirkannya untuk keluarga. MasyaAllah alhamdullah

Untuk mengimbangi kudapan yang manis ini, kita juga membuat kuliner khas Palembang lainnya yaitu pempek dan tekwan. Kuliner yang identik dengan tanah Jawa bakso pun tak urung dibuat, karena makanan ini salah satu yang favorit saat lebaran

Untuk menu utamanya, dibikin sehari menjelang lebaran. Agar ga diburu waktu, bumbu-bumbu seperti bumbu rendang, soto dkk sudah siap beberapa hari sebelumnya. Diawali dengan mengupas kulit bawang merah, bawang putih dkk kemudian digiling lembut.

Nah untuk menimbangi kudapan yang manis dan hidangan yang asin serta berlemak, es buah hadir menemani. Ini bagian yang dipercayakan emak kepada ane membuatnya😊 Es buah jadul yang ga lekang dimakan waktu selalu jadi favorit. Es buah ini terdiri dari buah nanas, bengkuang, pepaya mengkal yang dipotong kotak-kotak kecil atau yang matang dibentuk bulatan dengan alat pembulat, agar-agar warna hijau dan tidak lupa dengan sirup leci. Es buah penuh warna pelangi dengan rasa manis sedikit asam sungguh menyegarkan dan pas hadir di suasana lebaran

Untuk ketupat, seingat ane emak hanya sekali dua kali bikin. Setelah itu ga pernah lagi bikin ketupat. Emak rutin memesannya ma tetangga deket rumah yang memang terkenal akan ketupatnya yang enak

Kalo suasana menjelang lebaran begini suami jadi tau aktivitas istrinya membantu emak memasak menyiapkan hidangan lebaran. Menjelang akhir puasa, suami diajak abang ane melihat dan mengikuti aktivitas di masjid, seperti khatam Al-Qur’an dilanjutkan makan tumpeng. Wow.. sungguh-sungguh pengalaman yang luar biasa indahnya yang ga pernah ditemuinya di Austria 🙂 Begitu juga saat di dekat rumah ada masjid baru, suami berkumpul dengan temen-temen barunya dan melakukan beragam aktiitas. Tentu hatinya bahagia banget ya.. Sempat laporan juga ke ane. Denger suaraku takbir ga? MasyaAllah alhamdulillah suamiku 🙂

Nah itu di Indonesia. Bagaimana saat kita tidak bersama keluarga di Indonesia menjelang Hari Raya dan di Hari Raya?

Tentunya sedih ya karena auranya sangat berbeda. Bulan Ramadan, menjelang Hari Raya dan selama Hari Raya di Austria biasa-biasa aja. Maklum ya negara minoritas muslim, beda dengan Indonesia dengan penduduk mayoritas muslim, sedunia lagi 😊

Demi menuntaskan kangen ma suasana lebaran di tanah air, ane bikin juga kudapan hari Raya ini

Untuk kue kering yang biasanya mengandalkan emak bikinnya, saat di Austria mau ga mau ane bikin sendiri. Bener-bener dari nol belajarnya. Dimulai dari mengenal bahannya satu-satu, margarin, butter/mentega dan dkk hingga mencetak kue dan memanggangnya.

Karena belum profesional, tiap hari nyicil bikinnya. Misalkan hari ini kue coklat, besok kue kacang mente. Cukup masing-masing seloyang karena baru belajar juga bikinnya. Lagipula hanya berdua di rumah, jadi bikinnya ga banyak-banyak. Alhamdulillah saat perdana bikin, lumayan sukses untuk ukuran ane. Wow.. seneng banget rasanya

Untuk kue basah yaitu kue maksuba dan 8 jam untuk saat ini absen, belum tertangani oleh ane meski emak bilang coba aja bikin, kan ga sulit 😊Kalo kue lapis legit pernah coba-coba bikin dengan telur 5 butir, hasilnya lumayan juga tester ini. Ternyata kue lapis legit enak banget ya pemirsa. Lain waktu pengen nyoba lagi dan lebih fokus bikinnya.

Untuk makanan yang asin lainnya seperti pempek, tekwan dan bakso kadang-kadang aja bikin karena hanya ane yang makan .. suami lebih memilih roti. Tapi anehnya kalo di Indonesia, lancar jaya makan bakso 😊 Mungkin karena dimana-mana yang ada dan terhidang bakso aja ya..

Nah bagaimana dengan menu utama? Saat ga mudik dan berlebaran di Austria, awal mulanya ane biasa-biasa saja menyambutnya. Ga ada menu utama, masak seperti biasa menu sehari-hari. Eh tapi saat dua kali lebaran ga mudik- hhh kayak lagu bang Thoyib juga dua kali lebaran ga pulang-pulang- timbul kangen luar biasa ma menu lebaran

Mulailah ane mencoba bikin rendang, soto dkk. Saat di Indonesia mana pernah bikin menu begini karena semua emak yang menangani, ane hanya bantu-bantu beliau aja. Alhamdullah sebelum hari H ane dah pernah mencoba membuatnya beberapa kali dan masih ingat resep serta cara bikinnya, jadi ga bolak-balik nyari resep lagi 😊

Bahan-bahan pun dah disiapin beberapa hari sebelumnya, dari santan instan hingga serai dan laos beku. Bukan hal yang mudah mencari bumbu-bumbunya ini ya.. harus jeli dari hunting ke supermarket bule hingga toko Indonesia yang jauhnya lebih dari 200 km dari rumah

Perdana bikin rendang girang banget, meski rasa dan penampilan masih jauh dari kata sempurna. Lumayanlah untuk emak-emak sekelas ane yang amatir dalam hal memasak ini ya. Yang penting itu niatnya dan tekat baja mewujudkannya

Menu lebaran yang ga perlu ngubek-ngubek mbah google adalah sayur dan sambel hati, dengan kentang goreng, hati sapi dan buncis. Untuk buncis mudah dijumpai dimari. Untuk hati sapi kalo ga ada bisa diskip dengan udang. Yah namanya juga di negara bule ya.. pake apa yang ada 😊

Bagaimana dengan ketupatnya? Biasanya emak-emak tropis di Eropa menggantinya dengan lontong karena ketiadaan sarungnya yang dibuat dari daun kelapa. Lontong bisa disarungkan dengan plastik khusus makanan. Untuk rasanya sama aja ya.. ga beda jauh ma rasa nasi yang dipadatkan

Lumayan juga membuat lontong ini ya.. Tapi emak-emak tropis yang amatir soal lontong ini biasa disiasati bikinnya sesuai resep yang terpercaya. Cukup menanak nasi dengan takaran beras vs air 1:3. Kemudian ketika matang dan sedang panas-panasnya, nasi langsung dipadatkan. Jadi deh. Sungguh praktis bukan?

Saat menghidangkannya, lontong tinggal dipotong-potong kotak. Alhamdulillah bisa menemani makan soto 😊

Itulah beberapa hidangan menjelang Idul Fitri. Bagaimana dengan rumah?

Rumah juga ga luput turut dibersihkan menyambut Hari yang suci ini, seperti kebiasaan di Indonesia. Saat di Indonesia tugas ane bersih-bersih di dalam ruangan. Kalo emak orangnya gesit di halaman yang memang keahliannya bersih-bersih ga luput dibersihkannya, dibantu asisten rumah tangga sewaktu ada. Meski di hari-hari biasa kita juga membersihkannya, tapi menjelang Hari Raya serasa lebih spesial

Kalo di Austria ya biasa aja karena euforianya ga seheboh di tanah air. Tapi demi menyambut hari yang suci kembali ke fitrah, tetap bersih-bersih ya 🙂

Bagaimana dengan hari Rayanya?

Untuk sholat Ied, kita mengerjakannya di rumah karena ga ada masjid dekat rumah. Bisa juga masjid terbesar satu-satunya se Austria yaitu Islamic Center di kota Wina, 3 jam dari rumah saat tidak ada pandemi corona:.

Wow.. kebayang kalo di tanah air sholat Idul Fitri di masjid hingga keluar halaman ya.. bertemu dengan handai taulan. Betapa bahagianya aura Hari Raya di tanah air ya.. Selesai sholat mendengarkan kutbah Hari Raya kemudian bersilahturahmi saling salam-salaman

Alhamdulillah beberapa kali lebaran di Austria bertepatan dengan hari libur, entah hari Minggu atau Hari Libur Nasionalnya, seperti tahun ini Christ Himmelfart, Hari kenaikan Isa Al Masih. Tentunya ane senang dong karena bisa lebaran bersama suami. Iyalah.. sedih rasanya kalo hari yang suci ini ga bersama suami karena harus kerja. Maklum di Austria, Hari Raya kita ga masuk dalam hari libur nasionalnya

Biasanya saat di Indonesia selesai melaksanakan sholat Idul Fitri, anak menantu cucu berkumpul di rumah, ramai dan meriah. Lanjut dengan video call antar negara, kita di Austria-karena beda waktu 5 jam masih subuh sementara di Indoesia pagi-  dan Indonesia. Lumayan menuntaskan kangen ya.. Alhamdulillah jaman dah canggih sekarang, yang jauh serasa dekat, yang dekat serasa merapat.. meski ga bisa menggantikan full kebahagian kalo bersama-sama secara langsung

Nah itulah pemirsa beberapa suka duka ane menyambut dan merayakan Idul Fitri di negara bule Austria. Apapun dimanapun, tetap semangat menyambut dan merayakan hari yang suci kembali ke fitrah ini

Yang terpenting adalah maknanya ya pemirsa.. dengan bersyukur selalu kepada Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kita bisa melalui hari ini, setelah sebulan lamanya berpuasa dan ibadah lainnya di bulan yang penuh berkah penuh limpahan kasih sayang-Nya

Aamiin

Bir cevap yazın