Asal mula negara Israel, dari pengungsi hingga mencaplok tanah Palestina

149 Views

Palestina adalah negeri yang terjajah. Penjajahnya adalah mereka yang menumpang hidup di negeri yang semula aman dan makmur ini. Bagaimana mereka bisa menyasar hingga ke Timur Tengah dan menguasai negeri ini bahkan mendirikan negeri sendiri Israel?

Mereka memang tidak tahu diuntung. Mereka pengungsi dari negara-negara yang mengusir mereka, menghiba dan mengemis, menumpang hidup di negeri orang tapi kemudian menendang sang tuan rumah, persis garong. Mereka yang dibenci dimana-mana di Eropa bukan berarti mereka lantas membalas dendam dan mengusir pribumi dari tanah yang mereka tumpangi ya kan.. Eropa melepaskan masalah dan memberi masalah ke tanah Arab dan Islam umumnya dengan menghadirkan kaum yang memang ‘trouble maker‘ sejak zaman dahulu kala hingga saat ini

Adalah kaum Yahudi yang akhirnya mendirikan negeri sendiri Israel di tanah yang ditumpanginya, Palestina. Awalnya mereka tidak memiliki negeri dan hidup tersebar dimana-mana di seluruh dunia. Di Eropa, mereka tidak disukai karena beberapa alasan, dari agama hingga karakter

Bagaimana asal mulanya hingga mereka ini dari Eropa menyasar hingga ke negeri yang telah disucikan dan diberkahi Allah SWT untuk kaum muslim bahkan menjajah dan mendirikan negeri sendiri Israel.. kita cari tahu yuk

Lhirnya zionisme

Diawali dari sentimen anti Yahudi dimana-mana kepada mereka kemudian memunculkan ide zionisme

Zionisme adalah gerakan politik untuk mendirikan negara Yahudi Israel. Zion dalam bahasa Ibrani merujuk pada wilayah dimana Yerusalem berdiri yaitu Palestina

Ide tentang negara Israel ini muncul di Eropa pada akhir abad ke-19. Ini merupakan reaksi terhadap sentimen anti-Yahudi (yang disebut juga anti semit) yang luas dimana-mana di berbagai negara di Eropa. Sentimen ini bukan muncul secara tiba-tiba, tapi telah lumayan lama terpendam dan mendalam.

Kebalikan dengan di Eropa, di Palestina sebelum Perang Dunia I, tidak ada sentimen anti semit di bawah naungan kekhilafahan utsmani. Orang Yahudi hidup berdampingan damai dengan orang Arab dan agama lainnya yaitu Islam dan Kristen. Tapi semenjak zionisme digalakkan dan ‘Deklarasi Balfaur‘ diluncurkan, konflik Arab vs Yahudi serta merta meluncur

Di Eropa, orang Kristen dan Katolik membenci Yahudi karena dianggap sebagai pembunuh nabi mereka Yesus. Tapi yang lebih mengena adalah orang Yahudi memang kaya dan menguasai ekonomi Eropa, namun kikir dan licik. Ibarat ulat di atas daun pisang. Daun pisang hancur berlubang-lubang sedangkan badan si ulat gemuk dan sehat. Setidaknya itu yang terlihat dalam keseharian mereka, ditambah gempuran di media massa so klop deh sentimen Eropa pada mereka.

Sentimen anti Yahudi ini membuat kaum Yahudi berpikiran untuk membuat negeri sendiri agar tetap tenang dan eksis, tidak diuber-uber kebencian dan pengusiran

Sentimen anti-Yahudi di Eropa memuncak pada Perang Dunia I, lewat Holocaust ala Nazi Jerman dan mendorong kaum Yahudi berbondong-bondong ke ‘tanah harapan‘ Palestina.

Pada 1892, sekelompok Yahudi Rusia mengajukan permohonan kepada Sultan Hamid II untuk mendapatkan izin tinggal di Palestina, namun tidak dizinkan

Pada tahun 1896, adalah Theodor Herzl seorang jurnalis dan aktivis politik Yahudi berkebangsaan Austro-Hungaria menulis buku Der Judenstaat yang diterbitkan di Leipzig dan Wina. Buku ini mencetuskan doktrin baru Zionisme yaitu gerakan politik untuk mendirikan negara Yahudi Israel.

Menurut Herzl, bangsa Yahudi hanya akan tetap bertahan jika memiliki negeri sendiri.

Sebelum pilihan jatuh pada Palestina, Herzl berpikir negara Israel bisa didirikan di lahan kosong, di belantara Afrika (Rhodesia/Zimbabwe) atau di belantara Amazon, Amerika latin dan berharap diaspora Yahudi di Eropa bisa berpindah ke situ

Pada tahun 1896, Herlz memberanikan diri untuk kembali menemui Sultan Hamid II untuk mendirikan gedung di Ai Quds Palestina, namun lagi-lagi ditolak

Pada tahun 1897, Herzl mendirikan gerakan zionis Utsmani yang segera disambut hangat kaum Yahudi, termasuk kaum zion dan negara-negara besar yang memiliki diaspora Yahudi yaitu Amerika, Inggris, Perancis dan Rusia

Pada tahun 1897 ini juga, Herzl memprakarsai kongres Zionis dunia pertama di Basel, Swiss sekaligus strategi melumpuhkan kekhilafahan utsmani. Di depan kongres tersebut Herzl berkata: “Dalam 50 tahun akan ada negara Yahudi di Palestina.“
Hal ini menjadi kenyataan pada tahun 1948

Tentu saja gerakan Herzl ini cepat ditanggapi ya karena kerjasama negara-negara besar ini dalam realisasinya, tidak semata-mata hanya mendirikan negara Yahudi Israel. Ternyata ada tujuan terselubung di balik itu, negara-negara besar ini memiliki kepentingan dengan sumber daya alam di wilayah negara Yahudi dan sekitarnya yang akan didirikan. Nah untuk itulah diperlukan pemain kuat untuk melemahkan umat Islam di wilayah Timur Tengah dalam memuluskan kepentingan mereka.

Tanah Palestina masih ada yang memiliki. Nyosor langsung ke negeri ini ibarat maling di siang bolong. Tapi dengan dukungan dari negara-negara tersebut dan pas saat itu di tahun 1897 kekhilafahan utsmani kalah perang melawan Yunani, kesempatan emas ini tidak disia-siakan Herzl. Yahudi ini lewat duta besar di Utsmani di Wina menawarkan bantuan besar-besaran dengan syarat mengizinkan kaum Yahudi berimigrasi ke Palestian. Tawaran ini tentu saja ditolak.

Gencarnya aktivitas zionisme membuat Sultan Hamid II mengeluarkan keputusan pelarangan atas rombongan Yahudi ke Palestina dan tinggal di sana lebih dari 3 bulan

Pada tahun 1902, untuk yang kesekian kalinya Herzl tanpa malu secara langsung menemui Sultan hamid II, untuk memberi penawaran organisasi zionis yang diwakilinya bersedia membayar 150 juta poundsterling dalam bentuk emas untuk menutupi neraca defisit kekhilafahan utsmani. Timbal baliknya adalah meminta sebagian wilayah untuk ditempati imigran-imigran Yahudi. Hhh.. tentu saja penawaran itu lagi-lagi ditolak.

Siapa Sultan Hamid II? Beliau adalah pemimpin umat Islam sedunia dari kekhilafahan utsmani saat itu yang meliputi wilayah Timur Tengah termasuk Palestina. Beliau sangat menjaga tanah Palestina karena ini adalah tanah suci umat Islam ketiga setelah Mekah dan Madinah

Pada tahun 1903, Sekretaris Koloni Inggris Joseph Chamberlain menawarkan ide dan lahan 13.000 km² di wilayah protektorat Afrika Timur untuk menciptakan penampungan pelarian warga Yahudi dan sentimen anti semit di Rusia dan Eropa. Theodor Herzl mempresentasikan Proposal ’Rencana Uganda‘ ini pada Kongres zionis VI di Basel. Namun ide ini ditolak mentah-mentah oleh mayoritas delegasi, hanya sedikit diaspora yang pindah. Alasannya tentu saja karena mereka sudah sepakat menuju tanah Palestina pada kongres yang pertama.

Tanah Palestina kemudian diusulkan dan dipilih menurut versi mereka karena memiliki dasar agama yaitu ‘tanah yang dijanjikan‘ dalam kitab Perjanjian Lama. Usulan tanah Palestina mendapat persetujuan dan cukup sukses.

Pada 1904, Herzl meninggal karena radang paru, tapi gerakan zionisnya terus tumbuh dan dilanjutkan rekan-rekannya dan kaum zion

Dengan pendiriannya yang didasarkan pada Kitab Perjanjian Lama, Israel menjadi negara agama yang hanya untuk kaum Yahudi, ini artinya rasis dan apartheid. Pantesan membabat habis kaum Islam

Nah yang dapat kita lihat di sini, meski wilayah Palestina terdapat umat beragama lain termasuk Yahudi dan hidup berdampingan tentram dengan umat Islam sebelum penjajah ini mengusik Palestina dengan gerakan zionisnya, tak urung mereka dibabat juga. Akhirnya bentrok tak terelakkan

Jadi memang benar-benar Yahudi ini ingin menjajah dan menguasai Palestina seutuhnya. Jangan lupa juga negara-negara besar yang berkepentingan agar mereka tetap besar menguasai dunia dan wilayah Timur Tengah dan Islam umumnya akan selalu lemah dan terpecah belah

Kekacauan ini dapat dilihat pada periode Perang Dunia I

Periode Perang Dunia I

Pada masa ini 1814-1918 terjadi Perang Dunia I. Perang ini melibatkan negara-negara poros Prusia (Jerman), Austria-Hungaria, Bulgaria dan Khilafah Utsmani menghadapi negara-negara sekutu yang dimotori Perancis, Inggris, Rusia dan Italia

Pada 1915, untuk memuluskan rencananya dan mencari dukungan, Inggris menjanjikan kemerdekaan Arab Palestina bila kelak mengalahkan khilafah Utsmani. Hal ini tercatat dalam dokumentasi korespondensi komisioner tinggi kerajaan Inggris untuk negara Arab Letnan Kolonel Sir Henry McMahon yang berkedudukan di Mesir dan Hussein bin Ali pemimpin Arab (Sharif) di Mekah

Pada 1916, Perjanjian rahasia Sykes-Picot di era perang dunia I oleh Inggris dan Perancis, dengan disaksikan juga oleh Rusia dan Italia, berisi rencana meruntuhkan Khilafah Utsmani dan membagi-bagi rata wilayahnya di antara sekutu.

Meruntuhkan Khilafah utsmani sangat penting, karena kesultanan inilah yang menghambat rencana besar mereka, baik untuk mendirikan negara Israel dan menguasai Timur Tengah seutuhnya

Saat perang dunia I berakhir, sekutu berjaya dan Inggris pun mendapat kendali atas wilayah Palestina sesuai perjanjian Sykes -Picot. Di perang dunia I ini, Yahudi Prusia (Jerman) yang awalnya menghadapi sekutu secara taktis untuk kepentingan mereka memilih berkomplot untuk membantu sekutu

Pada 1917, Pemerintah kolonial Inggris melalui Perdana Mentrinya Arthur James Balfour yang merupakan keturunan Yahudi dengan ‘Deklarasi Balfour’nya berjanji mengupayakan ‘tanah air‘ bagi kaum Yahudi di Palestina. Tapi intinya ya mendukung pembentukan negara Israel. Padahal di sisi lain Inggris juga menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Arab-Palestina jika mau membantunya melawan khilafah Utsmani dalam Perang Dunia I

Pemimpin zionis Inggris Lord Lionel Rothschild turut mendukung penguatan pemukiman Yahudi di Palestina demi membantu pembentukan negara Yahudi.

Di sini dapat dilihat kontradiksinya
Inggris mengingkari janji yang ditawarkan komisioner tinggi Sir Henry McMahon kepada Hussein bin Ali pemimpin Arab yaitu kemerdekaan Arab Palestina.
Inggris mengingkari perjanjian Sykes-Picot yang menyatakan mayoritas wilayah Palestina akan berada di bawah administrasi internasional, sementara wilayah lainnya akan dibagi antara dua kekuatan kolonial Inggris dan Perancis setelah perang dunia I

Pada 1922, Liga bangsa-bangsa yang merupakan cikal bakal PBB resmi memberi mandat kepada Inggris untuk menguasai Palestina

Periode runtuhnya khilafah

Selain gempuran gerakan zionisme dari luar, kekhilafahan utsmani juga mengalami masalah internal dalam pemerintahannya karena disusupi kaum freemeson. Kekhilafahan pun oleng. Nah klop deh dengan hadirnya seorang Turki terdidik Freemason, Mustafa Kemal. Si Mustafa berseru kemunduran khilafah ini karena Islam. Oleh karena itu jalan keluarnya adalah nasionalisme dan sekularisme seperti yang telah berhasil di barat. Bersama tentara yang seiya sekata, ia merebut kekuasaan dan mengumumkan bahwa khilafah gagal dan bubar.

Nasionalisme menggantikan ukhuwah Islamiyah. Sejak saat itu tidak ada lagi ikatan antar umat Islam sedunia yang akan tolong menolong senasib sepenanggungan saat satu negara Islam jatuh dalam penderitaan, termasuk muslim Palestina ini

Runtuhnya khilafah Utsmani semakin melemahkan dunia Islam dan turut memuluskan aksi barat dan zionis untuk mendirikan negara Israel

Pada 1938, Partai Nazi Jerman berpropaganda bahwa pengkhianatan Yahudi sebagai biang keladi kekalahan Prusia pada perang dunia I yang menghancurkan ekonomi Jerman harus ditindak. Ratusan ribu Yahudi dikirim ke kamp konsentrasi dan sisanya lari ke luar negeri, termasuk ke AS

Pada 1944 Partai Buruh Inggris sebagai partai yang sedang berkuasa secara terbuka memaparkan politik mempersilakan orang-orang Yahudi terus bermigrasi ke Palestina, agar mereka bisa menjadi mayoritas dan mendorong keluarnya pribumi Arab. Dukungan ini membuat kaum zionis dan orang-orang Yahudi Eropa datang membanjiri tanah Palestina.

Akibatnya kondisi Palestina memanas. Perpindahan ini juga bertujuan mengurangi populasi Yahudi dalam persaingan kegiatan ekonomi di Inggris dan Eropa yang kembang kempis karena perang dunia

Pada 1947, setelah perang dunia I dan menjelang persiapan kedatangan perwalian (mandat) Inggris di tanah Palestina, PBB membagi Palestina menjadi dua wilayah yaitu Palestina Arab dan Israel dan anteng bilang merekomendasikan negara bisa menjadi negara merdeka yang berdampingan.

Duh enak saja.. Tentu muslim Palestina menolak

Periode Berdirinya Negara Israel

Pada 14 Mei 1948, para pemukim Yahudi di Palestina yang makin marak saja di Palestina dan mendesak orang-orang Arab, akhirnya memproklamirkan kemerdekaan negara Israel pada tahun 1948 secara sepihak, sehari sebelum habisnya perwalian (mandat) Inggris di Palestina. Mereka beralasan merekalah yang membangun maju wilayah yang semula kosong dan terbelakang.

Pertambahan populasi akibat migrasi masuk kaum Yahudi mencetuskan agresi bersenjata Israel membersihkan etnis Palestina Arab di wilayah-wilayah Palestina Arab yang ditetapkan PBB (gerakan Naba). Jahat dan licik kan mereka ini..

Jutaan rakyat sipil Palestina yang semula mendiami tanah ini dengan aman dan tentram mengungsi ke Libanon, Yordania, Syria dan Mesir. Palestinian Refugees atau Pengungsi Palestina menjadi tema dunia saat itu.

AS dan sekutunya mendorong dan menfasilitasi imigrasi zionis ke Palestina menimbulkan protes keras Liga Arab dan memicu konflik antara Israel dengan negara-negara Arab tetangganya. Ikhwanul Muslimin (IM) Mesir di bawah pimpinan Hasan Al Bana mengirim 10.000 mujahidin untuk berjihad melawan Israel. Tapi usaha ini pupus saat raja Mesir Farouk kuatir kekuatan IM bisa berpotensi kudeta sehingga tokoh-tokoh IM dipenjara atau dihukum mati

Pada 1952, bukannya Ikhwanul Muslimin, malah para perwira militer Masir di bawah Jamal Abdul Nasser yang melakukan kudeta terhadap raja Mesir Farouk.

Pada 1956, Nasser menasionalisasikan terusan Suez yang mulanya di bawah pengelolaan sekutu Inggris dan Perancis.

Pada 29 Oktober 1956 pasukan gabungan Israel Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai terusan Suez sebelum intervensi PBB, tapi AS dan Rusia menghentikan agresi militer tersebut

Pada 1964, para Pemimpin Arab membentuk PLO (Palestina Liberation Organitation). Akibatnya nasib Palestina dipersempit menjadi masalah nasional internal bangsa Arab-Palestina sendiri sehingga tidak lagi urusan umat Islam sedunia

Pada 1967, Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syria dalam perang 6 hari dengan dalih pencegahan. Israel berhasil merebut Sinai dan Jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerusalem (Yordania) dan dengan mudah menghancurkan angkatan udara musuhnya berkat informasi intelejen dari CIA. Dewan Keamanan PBB pun mengeluarkan resolusi nomor 242 berisi perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang diinvasinya dalam perang 6 hari tersebut

Tapi ya tetap saja akhirnya Palestina dikuasainya hingga sekarang

Israel terus dan terus menarik makin banyak imigran dari Eropa ke Palestina. Setiap anak keturunan Yahudi (Eropa) otomatis menjadi warga negara Israel, sementara orang Arab yang hidup berabad-abad di tanahnya belum tentu warga negara dan bahkan terusir dari tanah aslinya

Masih banyak lagi kelakuan Israel yang semena-mena hingga saat ini, yang semula pengungsi menumpang hidup di tanah orang sekarang malah balik mengusir tuan rumahnya yang berusaha meraih haknya kembali

‘Deklarasi Balfour‘ adalah titik pemicu sengketa sampai sekarang. Seorang sejarahwan menyebutnya sebagai ’transfer of hatred‘, memindahkan ’masalah Yahudi‘ dari Eropa ke Timur Tengah, memindahkan kebencian anti-Yahudi dari Eropa ke Timur Tengah

Itu sebabnya Eropa dan Amerika Serikat sangat getol membela Israel sampai sekarang, sekaligus menjadikan bangsa Arab sebagai tumbalnya. Untuk itu Amerika juga bertahun-tahun mencap gerakan kemerdekaan Palestina sebagai teroris. Sedangkan yang sebenar-benarnya teroris Israel diberi bantuan keuangan milyaran dolar setiap tahun dan membelanya dengan veto di Dewan Keamanan PBB setiap ada resolusi yang merugikan Israel. Parah memang

Semoga kebenaran akan segera terwujud dan ynag zalim lenyap dari muka bumi

Bir cevap yazın