Hierapolis, kota kuno Yunani-Romawi-Bizantium-Seljuk di Pamukkale, provinsi Denizli Turki

205 Views

Kali ini ane dan suami mengunjungi obyek wisata sejarah di Turki. Obyek wisata yang menjadi situs alam warisan Dunia UNESCO tahun 1988 ini dikenal dengan sebutan Pamukkale yaitu Kastil/Benteng Kapas atau Hierapolis kuno (Kota Suci)

Pamukkale yang berarti benteng kapas dalam bahasa Turki adalah sebuah situs alam di Provinsi Denizli di Turki barat daya. Kota ini berisi air panas dan travertin, mineral karbonat yang ditinggalkan oleh air yang mengalir. Ini terletak di wilayah Aegea dalam, di lembah sungai Menderes, yang memiliki iklim sedang untuk sebagian tahun

Kota kuno Yunani-Romawi Hierapolis dibangun di atas formasi travertin yang total panjangnya sekitar 2.700 meter, lebar 600 meter dan tinggi 169 meter, yang bisa dilihat dari perbukitan di seberang lembah di kota Denizli, 20 km jauhnya

Pamukkale adalah area wisata yang sangat terkenal di Turki dan sejagat raya. Ga heran Pamukkale menjadi incaran wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjunginya. Tidak hanya saat ini, bahkan jauh sebelum itu area ini sudah terkenal sejak jaman dahulu kala. Salah satunya alasannya adalah teras travertine yang sangat indah dan kolam air panas yang berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit

Pamukkale juga menjadi salah satu daftar tunggu kunjungan kita, tepatnya ane yang sangat penasaran akan keindahannya. Ternyata memang benar indah banget wilayah ini ya pemirsa 😊

Setelah merasakan sensasi berjalan di travertin, suatu area yang terbentuk dari endapan karbonat yang berwarna putih berkilau bak pualam dan terasnya yang bersusun alami sangat artistik, ga lupa mencelupkan kaki ke kolam air panas dan turut berselfi ria dan menikmati keindahannya, akhirnya sampailah kita di ujung travertin. Masih ada bersisa satu kolam yang paling ramai diminati wisatawan. Buktinya banyak yang berendam di kolam hingga numplek jadi satu 😀

Ini karena kolam terlihat paling cantik, warna biru airnya yang jernih efek pantulan sinar matahari dan langit biru menambah kesan anggun. Di kolam tertinggi dari teras ini kita juga bisa menikmati lanskap dengan lengkap, dari kolam buatan di bawahnya hingga kota Pamukkale yang terbentang di depannya

Di ujung travertin ini terhampar lantai dari travertin yang berwarna krem semburat coklat dan merah bata. Harus hati-hati melaluinya karena lumayan licin. Ga heran di sini petugas selalu wanti-wanti agar kita jangan pake alas kaki karena berbahaya. Tanda peringatan yang dipasang di lantai nampaknya ga cukup untuk meyakinkan para wisatawan

Di sini kita bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Ini adalah perbatasan terakhir travertin untuk menuju ke area selanjutnya.

Ada apa sih di atas sana ya. Penasaran suami berjalan menelusuri area ini. Sebelumnya kita ketemu burung dengan bulu berwarna-warni yang bisa diajak selfi di teras travertin 😊

Eh ternyata sisa-sisa peninggalan penguasa ribuan tahun lalu pemirsa. Inilah kota Hierapolis. Wah ga nyangka ya ketemu dengan kota jaman purbakala, dari jamannya Yunani Kuno, Romawi, Seljuk hingga era Ottoman. Kita mengira awalnya Pamukkale hanya travertin saja 😊

Di hamparan tanah luas ini tidak nampak travertin lagi. Berbeda dengan travertin yang ramai pengunjung, di sini sepi. Paling hanya beberapa gelintir yang mengunjungi. Mungkin sama seperti kita yang baru pertama kali kemari, ada rasa penasaran yang menyelinap pengen tahu lebih jauh kota kuno ini ya.. makanya bela-belain kemari

Suami paling semangat dan terus melangkah menyusuri setiap peninggalan masa lalu ini. Ada beragam bangunan yang dijumpai meski ga lagi utuh, seperti pemandian raja dan para wanitanya,  kuil, gereja dan lain-lain

Kita juga menyentuh bebatuan yang merupakan bagian dari bekas bangunan ini. Ini idenya suami sentuh menyentuh. Suami memang begitu. Dulu sewaktu ke istana Schönbrunn di Austria di atas bukit Gloriette, bebatuannya juga disentuh. Kapan lagi menyentuh bebatuan ratusan tahun begini, kata suami 😊Nah apalagi ini yang ribuan tahun ya

Di area ini terbentang luas jalan yang bersih dan halaman yang tertata rapi. Ada sisa-sisa bunga musim panas yang masih mekar seperti mawar, juga pepohonan yang rindang dan berbuah, seperti pinus dan kurma. Wow.. seru banget ya pemirsa

Dasar pencinta keindahan, sempat-sempatnya ane memfoto bunga-bunga dan pepohonan serta pemandangan dari halaman kota kuno ini, sementara suami asyik dengan temuannya beberapa bangunan di depannya, kebanyakan bebatuan yang sebagian utuh

Akhirnya ane menyusul suami setelah secepat kilat mengambil foto obyek kesayangan ane, sebelum kehilangan jejaknya

Area ini luas banget. Untungnya dalam jarak tertentu terdapat tanda petunjuk nama area apa saja yang terdapat di area ini

Nah seperti kita yang berada di sebelah kiri kalo kita mulai dari ujung travertin. Lurus aja ke kiri.

Di sini banyak terdapat bangunan di antaranya Nothern Necropolis atau Nercopolis utara, Bath Bazilica atau pemandian basilika, The Frontinus Street atau jalan Frontinus, Frontinus gate atau Gerbang Frontinus, Latrin, Agora, Gerbang Northern Byzantine, Nympheus Triton dan Gereja Katedral

Jadi jalan cantik yang kita lalui bernama jalan Frontinus ya 😊

Setelah selesai area ini, ada tersisa area yang belum kita telusuri, yaitu di sebelah kanan lurus dan lurus ke depan kemudian agak ke kanan.

Untuk ke kanan bawah sudah terlebih dahulu kita telusuri yaitu teras travertin dan kolamnya

Lurus ke depan/atas, kita jumpai tiyatro atau teater. Lurus kemudian agak ke kanan terdapat Kuil Apollo dan Plutonium

Kemudian di sebelah kanan lurus terdapat Medieval Castle, Museum dan Antique pool. Kita menelusuri area ini sekalian kembali ke tempat semula. Kita menjumpai Medieval castle atau kuil Medieval terlebih dahulu. Sayangnya hanya bisa lihat dari luar, karena bangunannya dipagar.

Kemudian kita ke Antique pool atau kolam antik

Sesuai namanya, kolam ini memang antik. Ini karena kolam berisi air panas yang mengandung berbagai mineral yang baik untuk kesehatan.

Bukan ane yang bilang ya 🙂 Ada jaminannya berupa sertifikat yang terpajang di depan kolam antik yang dipenuhi pengunjung yang berendam ini 🙂

Selanjutnya kita menyusuri jalan kembali ke asal dengan melewati museum

Museum ini berisi artefak bersejarah dari Hierapolis serta dari Laodikia, Kolose, Tripolis, Attuda dan kota-kota lain di lembah Lycos. Museum ini juga memiliki bagian yang dikhususkan untuk artefak yang ditemukan di Beycesultan Hüyük yang mencakup contoh kerajianan Jaman Perunggu

Pemandian Hierapolis dan area terbuka di sisi timur diketahui pernah digunakan sebagai perpustakaan dan gimnasium. Artefak di ruang pameran terbuka sebagian besar terbuat dari marmer dan batu

Museum terdiri dari beberapa galeri
Galeri makam dan patung
Galeri artefak kecil
Galeri reruntuhan teater

Mau tau lebih lengkapnya kota Hierapolis beserta bangunannya? Yuk pemirsa mari kita telusuri bersama-sama di bawah ini 🙂

Kita awali dengan sejarahnya ya

Sejarah

Didirikan pada awal abad ke-2 SM dan ditinggalkan pada abad ke-14.

Hierapolis pertama kali digali oleh arkeolog Jerman Carl Humann selama bulan Juni dan Juli 1887

Hieropolis Kuno

Hanya ada sedikit fakta sejarah yang diketahui tentang asal usul kota. Tidak ada jejak keberadaan orang Het atau Persia yang ditemukan. Orang Firgia membangun sebuah kuil, mungkin pada paruh abad ke 7 SM, yang awalnya digunakan oleh warga kota dekat Laodikia, kemudian menjadi pusat kota Hierapolis

Hierapolis didirikan sebagai spa termal pada awal abad ke-2 SM dalam lingkup kekaisaran Saleukia. Antokhus Agung mengirim 2.000 keluarga Yahudi ke Lydia dan Firgia dari Babilon dan Mesopotamia, belakangan diikuti lebih banyak lagi dari Yudea hingga jemaatnya tumbuh diperkirakan mencapai 50.000 pada 62 SM

Roman Hierapolis

Pada 133 SM, ketika Attalus II meninggal, dia mewariskan kerajaannya ke Roma. Hierapolis menjadi bagian dari provinsi Romawi di Asia. Pada 17 M, selama masa pemerintahan kaisar Tiberius, gempa bumi besar menghancurkan kota

Sebuah gereja didirikan di sini. Pada tahun 60, selama pemerintahan Nero, gempa bumi yang lebih parah membuat kota hancur total. Kota dibangun kembali dengan gaya Romawi dengan dukungan keuangan kekaisaran. Selam periode inilah kota mencapai bentuknya yang sekarang

Teater dibangun pada tahun 129 untuk dikunjungi oleh kaisar Hadiran

Pada tahun 215 masa keemasan Hierapolis. Ribuan orang datang untuk mendapatkan manfaat dan khasiat obat dari mata air panas

Proyek bangunan baru dimulai, dua pemandian Romawi, Gimnasium, beberapa kuil, jalan utama dengan barisan tiang dan air mancur di mata air panas.

Hierapolis menjadi salah satu kota paling terkemuka di kekaisaran Romawi dalam bidang seni, filsafat dan perdagangan

Selama abad ke-4, orang Kristen memenuhi Gerbang Pluto (plutonion)

Hierapolis Abad Pertengahan

Pada awal abad ke-7, kota itu dihancurkan pertama kali oleh tentara Persia dan kemudian oleh gempa bumi yang merusak, membutuhkan waktu lama untukpulih

Pada awal abad ke-12, daerah tersebut berada di bawah kendali kesultanan Seljuk di Konya sebelum jatuh ke tangan tentara salib di bawah  Frederick Barbarossa dan sekutu Bizantium mereka pada tahun 1190

Sekitar 30 tahun kemudian, kota itu ditinggalkan sebelu Seljuk membangun sebuah kastil pada abad ke-13. Pemukiman baru ditinggalkan pada akhir abad ke-14. Pada tahun 1354, gempa bumi di Thracian emumbangkan sisa-sisa kuno kota itu. Reruntuhan perlahan-lahan tertutup lapisan batu kapur yang tebal. Kemudian pada tahun 2020, lapisan batu kapur kota pecah dan diperbaiki setelah 2 bulan

Struktur

Beberapa struktur penting yang ada di area ini, ada yang berupa bangunan yang masih berdiri maupun tinggal bebatuan dan susunan bebatuan antara lain adalah teater, kuil Apollo, Bath Bazilica atau pemandian basilka dan lain-lain.

Yuk kita lihat secara lengkapnya

Tiyatro/ teater

Teater ini mungkin dibangun di bawah pemerintahan Hadirian setelah gempa bumi tahun 60 M. Fasadnya panjang 91 meter, tingkat penuh yang tetap berdiri. Di dalam gua tersebut terdapat 50 baris kursi yang dibagi menjadi 7 bagian dengan 8 tangga perantara. Diazoma, yang dibagi Cavea menjadi dua, dimasukkan oleh dua bagian berkubah (yang vomitoria). Ada loge Imperial di tengah-tengah cavea dan tembok setinggi 1,83 meter yang mengelilingi orkestra

Apollon Taoinagi/ Temple of Apollo

Sebuah kuil diangkat menjadi Apollo Lairbenos, dewa utama kota selama periode Helenistik akhir. Apollo ini dikaitkan dnegan dewa matahari Anatolia kuno Lairbenos dan dewa orakel Kareios, Situs ini juga termasuk kuil atau tempat suci untuk Cybele, Artemis, Pluto dan Poseidon. Sekarang hanya pondasi kuil Helenistik yang tersisa. Kuil itu berdiri di dalam peribolos (15 kali 20meter) dengan gaya Doric

Kuil yang memiliki tangga marmer ini terletak di dalam area suci dengan panjang sekitar 70 meter dikelilingi oleh dinding pagar (temenos)

Cin Deligi/ Plutonium

Di sebuah kuil ini dan di dalam area suci adalah tempat suci lokal tertua, Gerbang pluto, suatu plutonium, yang di sini berarti tempat suci bagi dewa Yunani Pluto. Ini adalah gua kecil ynag cukup besar untuk dimasuki satu ornag melalui pintu masuk berpagar, setelah itu tangga turun dan dari situ muncul karbondioksida yng mencekik gas yang disebabkan oleh aktivitas geologi bawah tanah. Di belakang ruangan beratap seluas 3 meter persegi terdapat celah yang dalam dan bebatuan, tempat air panas ynag mengalir deras lewat sambil mengeluarkan gas berbau tajam. Karbon dioksida lebih berat daripada udara cenderung mengendap di cekungan. Sebuah area tertutup seluas 2.000 m² berdiri di depan pintu masuk. Ini ditutupi oleh lapisan tebal gas yang menyesakkam. Pintu masuk ke plutonium telah ditutup selama masa Kristen dan baru saja digali

Nothern Necropolis/Necropolis utara

Bath Bazilica/Pemandian Basilika

The Frontinus Street/ Jalan Frontinus

Gerbang Frontinus

Ini adalah pintu masuk monumental ke kota Romawi dan mengarah ke dataran tinggi besar, lebar 14 meter, yang melintasi seluruh pemukiman keluar darigerbang di sisi berlawanan, untuk menghubungkan dengan jalamn menuju Laodikia di Lykos dan kemudian Kolose. Strukturnya terawat dengan baik dnegan tiga bukaan, dalam balok travertin persegi yang hati-hati, dengan lengkungan elegan yang dihiasi dengan cetakan cornice sederhana, diapit oleh dua menara bundar

Latrin

Agora

Gerbang Northern Byzantine/Gerbang Bizantium utara

Gerbang utara merupakan bagian dari sistem benteng yang dibangun di Hierapolis pada zaman Theodosian (akhir abad ke-4) dan merupakan pintu masuknya yang monumemtal, dilengkapi dengan gerbang simetris di sebelah selatan kota

Nympheus Triton

Gereja Katedral

Antique pool

Pada masa kekaisaran Romawi, Hierapolis dan situsnya pernah menjadi pusat kesehatan. Pada tahun-tahun itu, ribuan orang biasa datang ke pemandian, ynag jumlahnya lebih dari 15 orang dan mereka menemukan obatnya di pemandian tersebut. Kolam antik saat ini dibentuk oleh gempa bumi yang terjadi pada abad ke-7 Masehi. Serambi marmer dengan susunan ionik jatuh ke mata air selama gempa bumi itu

Di halaman menuju Kolam Antik ada patung ayam jantan lho. Ini bisa diartikan kalo Pamukkale itu ayam jantan juga 🙂

Nah demikianlah pemirsa edisi kali ini mengenai Hierapolis, kota kuno Yunani_Romawi-Seljuk yang berada di Pamukkale, Provinsi Denizli, Turki ini

Tertarik kemari? Yuk pemirsa jalan-jalan ke salah satu Situs Wrisan Dunia UNESCO di negara Presiden kharismatik Turki Recep Tayyip Erdogan

Bir cevap yazın