Suasana Ramadan dan lebaran tahun 2020 di tengah corona di Austria dan Indonesia

169 Views

Bulan Ramadan dinanti-nanti dan disambut suka cita umat Islam di seluruh dunia. Bulan Ramadan adalah bulan penuh pengampunan dan keberkahan, bulan yang membawa kedamaian. Di bulan ini juga Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam diturunkan. Di bulan ini pula terdapat malam penuh kemuliaan, malam yang lebih baik dari seribu bulan

Bulan Ramadan di tahun 2020 ini bertepatan dengan sedang berlangsungnya musim semi di negara 4 musim di belahan bumi utara Eropa termasuk Austria tempat ane menetap saat ini ikut suami warga negara sini

Musim semi musim yang sangat indah dan membawa berkah, dimana suhu tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas. Ditambah tanaman dan pepohonan yang bangkit hidup kembali setelah sekian lama beristirahat panjang dan mati suri karena musim dingin, dengan pucuk daun mudanya dan bunga-bunganya bermekaran semakin membahagiakan Ramadan ini. Meski berpuasa di tahun ini hingga 17 jam lebih beberapa menit, menjalankannya tidak berat dan melelahkan karena suasana yang menyejukkan dan menyenangkan

Tetapi ada yang beda dengan Ramadan tahun ini karena bulan Ramadan di tahun ini kebetulan bertepatan dengan sedang marak-maraknya virus corona yang menyebabkan pandemi, yang mewabah ke seluruh dunia. Isi dunia dibuat sibuk oleh virus bermahkota tak kasat mata yang dilaporkan menginfeksi pertama kali di kota Wuhan, Cina

Meski demikian, ada dan tiadanya virus corona, bulan Ramadan yang penuh rahmat dan hidayah ini tetap berlanjut. Umat Islam berbahagia menyambut bulan Ramadan yang selalu dirindu dan dinanti kehadirannya. Di bulan Ramadan inilah umat Islam menjalankan kewajibannya berpuasa sebulan penuh dan tarawih sebagai ibadah tambahan/sunah yang dilakukan setelah sholat Isya.

Bagaimana suasana puasa di awal bulan Ramadan di Eropa (baca: Austria)?

Awal Ramadan

Pada awal bulan Ramadan, lockdown, aturan secara nasional stay at home atau tinggal di rumah, sosial distancing atau pembatasan sosial dan lain-lain masih berlangsung di Eropa begitu juga di Austria. Inilah pertama kalinya di bulan Ramadan di Eropa, orang-orang begitu tertib.

Pada awal ramadan ini restoran-restoran, cafe-cafe dan ruang publik lainnya seperti toko-toka dan salon kecantikan lanjut pedicure manicure ditutup tidak beroperasi. Tidak ditemukannya bule berkeliaran di luar rumah makan minum dan ngumpul bareng di tempat keramaian dan ruang publik seperti restoran-restoran dan cafe-cafe. Apalagi berpelukan, berciuman dan berbaju minimalis.

Corona memaksa mereka membatasi pertemuan dan kontak fisik. Kalopun keluar, siap-siap atribut seperti hendak ke bulan. Baju tertutup, masker, sarung tangan menjadi atribut wajib kalo keluar rumah. Berdekatan pun merupakan hal yang langka, paling tidak 1 meter jarak antara yang satu dengan lainnya untuk menghindari percikan droplet atau air liur yang bisa saja mengandung virus pembawa penyakit ini. Mereka saling waspada satu sama lain

Kota metropolitan dengan keindahan dan pesonanya menjadi kota semaput bahkan persis kota mati. Sangat jarang ditemui orang-orang berlalu lalang bahkan sekedar bersantai ria dan menghabiskan waktu seperti saat normal sebelum corona lahir ke dunia. Ane aja keluar untuk belanja kebutuhan sehari-hari bersama suami yang biasanya cerah ceria menjadi penuh waspada dan kehati-hatian. Kalo bisa memilih mah ga keluar rumah untuk belanja ya

Hal ini berbeda saat belum ada corona. Kegiatan kumpul-kumpul di pusat kota dan keramaian dan makan minum serta saling berpelukan dan berpakaian minimalis efek menyambut sinar matahari yang dirindu musim panas merupakan pemandangan yang biasa di sini. Iyalah karena memang dah kulturnya begitu ya.. Mana tahu mereka toleransi harus menghormati orang puasa lha mereka memang ga tahu kok 😊Kita yang hidup di negara non muslim yang harus memaklumi dan sebisa mungkin tidak ‘terpana‘ dengan pemandangan itu. Menjaga pandangan, menahan diri dan menghindari adalah bagian dari menjaga keimanan dan ini bagian dari puasa

Selama bulan Ramadan

Awal bulan Mei, Eropa sudah melakukan kelonggaran seiring tidak semakin mengganasnya neng corona. Beberapa negara mulai ancang-ancang untuk membuka ruang publik seperti toko-toko, restoran-restoran dan sejenisnya begitu juga salon hingga kegiatan belajar mengajar

Di Austria, dari yang direncanakan 1 Mei terealisasi mulai 6 Mei 2020 toko-toko dan salon serta ruang publik sudah bisa beroperasi kembali meski tetap dengan pembatasan jam malam. Masker masih tetap harus dipakai ga peduli kita sehat wal’afiat atau sakit. Karena di keramaian kita ga tahu siapa yang sehat walafiat, sakit atau pembawa penyakit (corona)

Meski begitu, alhamdulillah orang-orang tetap tertib. Masih ditemui atribut seperti hendak pergi ke bulan, serba tertutup dan sopan 😊 Ini sungguh pemandangan yang mengademkan

Di penghujung Ramadan

Seiring dengan menurunnya tingkat terinfeksi dan kehilangan nyawa akibat corona, orang-orang sudah mulai berada di ruang publik. Terlihat kegiatan makan minum dan kumpul-kumpul yang memang sudah budaya dan tradisi bule di sini, meski tidak membludak dan kebablasan. Masih tetap penuh kehati-hatian dan waspada, karena neng corona belum pergi 100% dan masih mengintai ranah kehidupan

Bagaimana kegiatan Ramadan di Austria?

Untuk kita, karena ga ada masjid di dekat rumah, tarawih diadakan di rumah. Ini mengingatkan ane saat Ramadan di tanah air, ane dan emak ane serta anggota keluarga berjalan kaki menuju masjid terdekat untuk melaksanakan ibadah sholat dan tarawih. Kadang ke beberapa masjid yang berbeda di malam-malam lainnya. Terasa kental rasa kekeluargaan. Suasana Ramadan begitu menyejukkan

Saat kita mudik dan suami bisa menikmati suasana Ramadan di tanah air, betapa bahagianya suami. Suasananya jelas berbeda ketika di Austria. Suami langsung akrab dengan warga dan mendapat banyak teman di lingkungan masjid yang menyambut bahagia saudara muslimnya dari negara bule ini😊

Bagaimana saat masjid mengadakan beberapa kegiatan di bulan Ramadan disamping sholat dan tarawih, seperti berbuka puasa bersama atau tadarusan, suami turut hadir dan ini pengalaman luar biasa dalam hidupnya yang membuatnya takjub dan ga akan dilupakannya. Sungguh suami sangat menikmati kebersamaan yang belum pernah ditemuinya selama di Austria

Namun tahun ini kita ga mudik dan bersamaan dengan hadirnya corona yang masih belum mau juga beranjak dari muka bumi. Padahal kita sudah merencanakan tahun ini mudik lagi dan menjalani suasana Ramadan di tanah air, berkumpul juga dengan adik perempuan dan keluarganya yang tinggal di pulau Jawa. Rumah tentu saja pasti meriah dan penuh kebahagiaan

Akhirnya kembali seperti semula. Kita yang di Austria yang terbiasa sholat tarawih di rumah, hal ini tidak ada bedanya

Akan tetapi, saudara-saudara muslim di tanah air tentu sangat merasakan hal yang sangat tidak biasa dan ini sungguh menyedihkan dan berbagai rasa campur aduk. Bagaiamana kita yang biasanya bertahun-tahun bersama-sama ibadah di masjid dan melakukan kegiatan di bulan Ramadan penuh suka cita dan bahagia, ‘dipaksa‘ corona tidak melakukannya. Ini karena di Indonesia sedang rawan-rawannya corona hampir di seluruh wilayah. Untuk zona aman diperbolehkan melakukan kegiatan di masjid dengan protokol yang ketat seperti menggunakan masker, social distancing dan membawa sajadah serta alat sholat sendiri dari rumah. Tapi ini jarang sekali, karena ya itu dia, corona mengintai dimana-mana di hampir seluruh wilayah Indonesia

Hal ini berbeda dengan negara-negara di Eropa yang mulai menurun keganasan coronanya hingga mulai melonggarkan aturan di ruang publik terkait corona. Tapi ya itu dia, di tempat kita tiada bedanya suasana Ramadan. Tetap di rumah karena masjid ga ada

Meski begitu, yang di tanah air kita ambil hikmahnya saja ya. Para suami bisa menjadi imam untuk keluarganya melakukan ibadah sholat dan tarawih di rumah. Kegiatan bulan Ramadan di rumah termasuk tadarusan semakin menambah rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota keluarga

Selain itu hikmah dengan adanya corona ini mampu menekan sifat konsumtif masyarakat yang telah membudaya dimana seringkali melakukan buka bersama di luar, di ruang publik seperti di restoran, hotel, cafe yang kadangkala ga bermanfaat. Hanya kumpul-kumpul doang. Bukan rahasia umum lagi melakukan buka bersama tapi kemudian ngacir dan hanya ada beberapa yang sholat maghrib bersama-sama, bahkan ada yang tidak melakukan sholat maghrib. Astaghfirullahalazim

Mal-mal yang biasanya ramai di bulan puasa untuk sekedar cuci mata terlihat lengang karena corona. Alhamdulillah kita ambil hikmahnya.

Begitu juga kegiatan ngabuburit, istilah menunggu waktu berbuka dengan menghabiskan waktu keliling kota dan mutar-mutar bepergian kesana kemari juga sangat jarang dijumpai, lagi-lagi karena corona. Warga lebih memilih menahan diri daripada kesambet corona, menyesalnya seumur hidup, menyesal tiada guna

Suasana mudik dan lebaran

Nah bagaimana dengan tradisi mudik dan lebaran?

Seharusnya ini menjadikan kita lebih arif dan bijaksana menyikapinya ya.. Tapi rambut boleh sama hitam, hati siapa yang tahu. Dan kurang asemnya lagi pemerintah di Indonesia yang ‘rada-rada‘ malah mengijinkan mal dibuka, pasar apalagi.. dan transportasi tetap beroperasi. Ditambah statemant ‘mudik jangan pulang kampung boleh‘ dan kebalikannya

Bagaimana warga ga kegirangan semangat 45 seperti anak kecil dikasih permen menyerbu segala mal dan melakukan mudik, apalagi warga yang mindset atau pola pikirnya telah terprogram selama bertahun-tahun menyambut Idul Fitri/lebaran dengan baju baru dan kumpul keluarga. Ga mudah menghilangkan tradisi yang sudah berurat dan berakar ini

Mal dan pasar ramai menjelang lebaran, kadang berdesak-desakan seakan tak ada neng corona. Tak kuasa menahan diri, yang penting bisa lebaran dengan baju baru, kue-kue, daging rendang soto opor dan lain-lain. Padahal masih dalam suasana corona. Lain dengan orang yang lebih arif dalam menyikapi pandemi ini, lebih mikirin bagaimana bisa melindungi diri dan keluarga dan bertahan hidup daripada mikirin yang serba baru. Lagipula siapa yang mau bertandang ke rumah

Islam tidak mengajarkan serba baru menyambut lebaran, tetapi intinya adalah jiwa yang kembali fitri usai sebulan penuh melaksanakan ibadah di bulan Ramadan

Begitu juga mudik. Sebenarnya sangat menyesakkan dada dan campur rasa karena ga bisa mudik padahal sudah jauh-jauh hari direncanakan. Tapi apa hendak dikata corona masih betah saja di bumi. Ambil hikmahnya. Tidak mudik ke kampung halaman tidaklah ada apa-apanya dibanding mudik ke kampung halaman selamanya yaitu akhirat.

Sebenarnya juga, seharusnya tradisi mudik yang ga ada sangat baik karena kadangkala tradisi mudik melalaikan ibadah di 10 hari terakhir Ramadan. Ini mengembalikan hakikat Ramadan untuk kita

Sayangnya dengan aturan yang amburadul dan plin-plan dari pemerintah dan juga warga yang ngeyel luar biasa, maka mudik terus berlanjut. Berkumpulnya di keramaian yang penuh sesak tanpa alat pelindung seperti masker sungguh-sungguh mengabaikan keselamatan dan keberadaan corona, atau mungkin menganggap kebal tak mungkin corona menghampiri mereka. Wallahualam. Hanya Allahlah yang tahu. Padahal helloo.. ikhtiar itu wajib.. jangan menantang maut. Ini sangat mengkuatirkan karena corona masih mengintai setiap jiwa manusia

Ini tentu berbeda dengan di Eropa. Maklum bukan negara Islam dengan tradisi mudik dan lebaran. Tidak ada tradisi mudik di Eropa. Paling ane yang kebelet mudik ya tapi harus urung karena situasi tidak memungkinkan dan lebih mementingkan kemaslahatan.. apalagi kalo bukan corona. Daripada sesampai di Indonesia dikarantina 2 minggu dan selebihnya di jalan tapi kemudian bersama keluarga dengan suasana Ramadan dan lebarannya kapan?

Warga tropis beragama Islam di Eropa yang biasanya sholat Idul Fitri di kedutaan atau di masjid terdekat mungkin ditiadakan atau ada tapi dengan protokol yang ketat seperti menggunakan pelindung dan social distancing, membawa sajadah dan mukena masing-masing. Begitu juga setelah sholat Idul Fitri lanjut menikmati suasana Idul Fitri berkumpul bersama-sama di kedutaan negara masing-masing/open house, mungkin ditiadakan atau ada juga tapi dengan protokol yang ketat seperti menggunakan masker dan social distancing/menjaga jarak

Untuk Austria, tahun ini sholat Idul Fitri kemudian open house di lingkungan kedutaan ditiadakan karena corona

Bagaimana di tanah air? Di kampung halaman, emak ane bilang sholat Ied mungkin di rumah untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena corona. Di beberapa wilayah yang masuk zona aman, alhamdulillah katanya sholat Ied bisa dilakukan di masjid dan lapangan terbuka meski tetap dengan prosedur protokol yang ketat seperti menggunakan pelindung seperti masker, social distancing hingga membawa sajadah dan mukena masing-masing dari rumah

Tradisi silahturahmi ke rumah-rumah yang merupakan kebahagiaan buat umat Islam di Austria tidak akan ditemui, apalagi di area wilayah tempat kita tinggal karena hanya kita muslimnya 😊 Sama seperti hari biasa, bahkan tahun-tahun sebelumnya yang jatuh bukan di hari libur tidak seperti sekarang di haril libur Minggu, warga tetap bekerja seperti biasanya. Sekali lagi harap maklum ya karena ini bukan negara mayoritas beragama Islam 😊

Bagaimana dengan di Indonesia? Tidak mudah untuk menghilangkan tradisi ini. Tapi harus dipikirkan masak-masak dan ditemukan solusinya. Untuk yang tanpa kompromi, tak ada tradisi kumpul-kumpul dan silahturahmi tahun ini. Karena corona sendiri tidak bisa kompromi dan sedang tinggi-tingginya di Indonesia. Ini adalah keputusan yang berat tapi InsyaAllah membawa manfaat

Akan tetapi kita bisa bertindak bijaksana jika memang sangat ingin menjumpai sanak keluarga, mungkin tidak berkumpul ramai-ramai sekaligus dalam satu rumah ya.. karena kita tidak tahu siapa yang sehat, sakit atau pembawa virus luar biasa ganasnya ini

Harus digilirkan kedatangannya. Mungkin pagi hari untuk keluarga abang bertandang ke rumah orangtua. Siangnya keluarga adik atau kakak yang ke rumah orangtua. Dengan begitu, dengan diminimalisirnya kerumunan akan terminimalisirnya kemungkinan kontak dan tersenggol corona

Untuk orangtua dan sepuh, tidak bisa langsung nyosor kita peluk dan cium. Ini bukan karena kita tak sayang, Tapi ini merupakan bentuk kasih sayang kita kepada orangtua untuk menghindari kontak dan hal-hal yang tidak diinginkan karena corona. Karena orangtua dan sepuh merupakan mereka yang rentan terhadap penularan corona

Ini ujian untuk kita. Kita harus bersabar dan berlapang dada, dan semakin kencang berdoa pada yang Maha Kuasa, serta semakin mendekatkan diri dan beribadah khusyu kepada Sang Pemilik Alam Allah SWT

Nah demikianlah pemirsa edisi kali ini mengenai suasana Ramadan dan lebaran di tengah corona di tahun 2020 ini.

Sungguh sedih ya harus berpisah dengan bulan yang penuh pengampunan ini dalam situasi begini pula, begitu juga Idul Fitri.

Semoga kita bisa dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya InsyaAllah aamiin

Ya Allah, ampunilah kami, maafkanlah kesalahan kami, berkahilah kami di bulan Ramadan. Terimalah amal ibadah kami. Dan masukkanlah kami ke surgaMu dengan RahmatMu ya Allah

Barang siapa puasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan karena Allah SWT maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu

Tidak ada musibah yang lebih besar kecuali habisnya bulan Ramadan dan ketika langit dan bumi menangis karena musibah yang menimpa kita maka kita yang lebih berhak menangis karena habisnya anugrah dan kemuliaan ini ☹

Semoga corona segera berlalu ya agar kehidupan kita kembali normal seperti sediakala

InsyaAllah aamiin

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Mohon maaf lahir batin

 

Bir cevap yazın