Karena corona bumi tak merana, biarkan beristirahat kembali ke fitrahnya

792 Views

Corona membawa hikmah. Tanpa disadari dengan adanya corona bumi tak merana. Paling tidak, bumi dapat beristirahat setelah sekian lama terbiasa dengan hingar bingarnya kehidupan mahluk di bumi. Ibarat manusia, bumi nampak seperti nenek-nenek yang glamor, penuh perhiasan. Bumi dijejali segala macam di wajahnya seakan lansia tak ingat usia

Sudah lama bumi kelihatan lelah. Dengan adanya corona, bumi kembali ke fitrahnya, seumpama nenek-nenek yang sepuh ini saatnya beristirahat menikmati hari-hari tua dengan tenang

Jalanan yang biasanya ramai dengan kendaraan, mendadak lengang. Jalanan yang biasanya berisik dengan bunyi kendaraan dan gesekannya dengan bumi seperti kereta api, mendadak hening. Jalanan yang biasanya dipenuhi dengan asap kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, mendadak jernih. Bumi yang biasanya sesak agak sedikit bernafas lega

Orang-orang yang berkumpul di keramaian dengan meninggalkan sampah masing-masing bekas belanja, makan dan minum, mendadak lengang, tempat keramaian menjadi sepi dan bersih

Bandara sepi, penerbangan berhenti. Langit yang biasanya dipenuhi dengan lalu lintas udara, belum lagi dengan asap kendaraan udara yang dikeluarkan setiap saat, perlahan tapi pasti hilang. Bumi berhenti batuk, langit terlihat lebih bersih dan ceria

Pabrik-pabrik tutup, karyawannya diliburkan, tak ada produksi sehingga kepulan polusi juga terhenti. Salah satu penyebab bumi sesak dan batuk adalah dari polusi pabrik. Langit menjadi lebih bersih dan ceria juga, lebih biru dan cerah

Malam yang biasanya ramai dengan orang-orang yang mencari hiburan, mendadak hening, sehingga bumi dapat beristirahat sebagaimana mestinya. Malam untuk beristirahat, siang untuk beraktivitas

Corona memaksa seluruh dunia ke dalam karantina

Kota-kota yang tidak pernah tidur akhirnya terpaksa tidur, mereka diisolasi

Bumi yang biasanya ramai dipenuhi manusia dengan segala aktivitasnya, mendadak lengang. Transportasi publik baik darat, laut dan udara yang ikut andil mengotori bumi dengan menyemburkan polusi udaranya, seketika mendadak lengang juga.

Tanpa orang-orang di jalan atau pabrik-pabrik bekerja, sesuatu yang menakjubkan terjadi, dimana tingkat polusi menurun. Pabrik adalah salah satu penyumbang polusi udara.

Ga hanya itu saja, hewan-hewan mendadak turun gunung, dikomandoi pemimpinnya mereka melenggang bebas memasuki kota. Ga ada yang larang. Di Eropa, selain melenggang kangkung, bunga-bunga di taman penghias kota ga urung dicicipi juga oleh para hewan. Gimana rasanya bunga-bunga orang kota? Sambil sesekali celingak celinguk, ni orang pada kemana ya.. sepi mengheningkan cipta

Kota Wuhan di Cina adalah kota yang pertama kali melakukan karantina pada bulan Januari. Kota inilah yang juga pada akhir tahun 2019 bulan Desember pertama kalinya melaporkan terjadinya infeksi disebabkan virus corona

Otoritas melarang transportasi publik dan menutup bisnis lokal. Hasilnya, hampir 2 bulan kemudian, kualitas udara meningkat lebih baik 21,5%.

Tapi ga hanya di Wuhan saja, langit pun berubah menjadi biru jernih bersih berseri di hampir seluruh wilayah Cina

Hal ini juga diketahui dari gambaran satelit dari NASA dan Badan Antariksa Eropa ESA (European Space Agency) yang tidak berbohong

Penurunan pada nitrogen dioksida di atas Cina sangat mencolok. Negara yang super besar dan luas ini bertangggungjawab atas 30% emisi karbondioksida CO2 setiap tahunnya. Dan mungkin mereka harus berterima kasih kepada COVID-19, karena gegara si virus bermahkota tak kasat mata inilah membuat emisi menurun 25%

Bagaimana dengan negara lain? Di New York, kota metropolitan di Amerika Serikat yang biasanya hingar bingar dengan aktivitasnya tanpa henti ini mengikuti jejak Cina. Kita bisa melihat bagaimana aktivitas ekonomi karena COVID-19 berjalan lambat. Dan sebagai hasilnya, emisi turut berkurang. Larangan bepergian juga membantu mengurangi emisi CO2

Begitu juga di Spanyol. Polusi udara di Barcelona dan Madrid telah berkurang 50%.

Di Italia, kanal-kanal Venice telah pulih kecantikannya. Mereka secara komplit bersih karena ada lebih sedikit gondola-gondola bersirkulasi. Sebagai hasilnya, sedimen telah turun ke dasar, meninggalkan kristal air yang jernih. Ikan-ikan kecil mengambil keuntungan darinya dan kehidupan mereka menjadi lebih bahagia. Ga ketinggalan pula bebek-bebek ikut berbahagia, berenang dengan bebas di sekitar air mancur

Di ibukota tanah air tercinta Indonesia yaitu Jakarta, yang biasanya hiruk pikuk dengan aktivitas manusia dan salah satu kota di dunia dengan kemacetan super parah tiada akhir juga berlaku hal yang sama tentunya. Jalanan lengang, asap kendaraan berkurang. Keadaan begini biasanya hanya terjadi setahun sekali, saat warga mudik lebaran. Kota setidaknya bisa sedikit bernafas lega, tidak penuh sesak.

Terlihat perubahan dari bumi yang sedang beristirahat ini. Penurunan ini begitu berarti

Menurut Badan Kesehatan Dunia WHO, polusi menyebabkan kematian 7 juta orang setiap tahun. Dengan adanya penurunan emisi ini dan perubahan bumi yang beristirahat, omtomatis akan bisa melindungi banyak kehidupan.

Bumi tempat kita berpijak ini sungguh cantik, tapi juga secara ekstrim planet ini rapuh. Seperti gadis belia, tapi dipaksa dewasa sebelum waktunya dan manut menerima kerasnya kehidupan

Alam yang harusnya berlimpah dan mencukupi untuk kehidupan mahluk di bumi, secara sadis direnggut kekayaannya tanpa mau mengembalikannya ke semula. Wajar bila bumi akhirnya marah dan merana. Longsor, banjir, polusi udara dimana-mana

Krisis ini adalah suatu kesempatan kita untuk berpikir mengenai masalah bumi ini. Mungkin ada banyak orang sekarang yang sedang melihat polusi yang disebabkan oleh manusia ini dari sudut pandang yang berbeda. Namun intinya tak ada keraguan dari pengamatan akan perubahan iklim ini mengubah perdebatan yang akan membuka mata hati kita

Karena setelah virus corona pergi, ketika segala huru hara dan segalanya ini selesai, akankah berjalan kembali ke semula atau berubah, apakah kita ikut berubah pula? Atau polusi kembali berlanjut, begitu juga kerusakan alam yang disebabkan eksploitasi besar-besaran, lagi-lagi menyebabkan bahaya. Mungkinkah kita berpikir setelah virus corona kita akhirnya akan mengubah gaya hidup kita?

Virus corona sedang memberi kesempatan bumi untuk beristirahat. Biarkan bumi beristirahat kembali ke fitrahnya. Bumi butuh waktu untuk memulihkan diri. Jangan ganggu dia kalo tidak mau segalanya merana kembali

 

Bir cevap yazın