Hikmah di balik corona, mengubah peraturan dunia yang tidak mungkin menjadi mungkin hingga bumi beristirahat kembali ke fitrahnya

870 Views

Sejak keberadaanya yang dilaporkan pertama kali di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 lalu, hingga pertengahan April ini corona telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dan dua juta orang terpapar. Sangat cepat penyebarannya dan menghampiri siapa saja tak pandang bulu, melalangbuana hingga hampir seluruh dunia

Badan Kesehatan Dunia WHO sampai menyatakan pandemi karena keberadaannya yang mengglobal ini

Hingga kini corona masih betah saja di bumi, belum juga ada tanda-tanda mau pergi. Hari-hari selalu diliputi pemberitaan tentang diri virus bermahkota tak kasat mata ini

Di balik kedahsyatannya mengguncang dunia, corona memberikan hikmah sebagai pembelajaran yang berharga untuk kita semua, di antaranya adalah mampu mengubah peraturan dunia yang tidak mungkin menjadi mungkin. Manusia juga kembali mengingat akan Pencipta-Nya yang Maha Kuasa Allah SWT. Selain itu, corona mampu menunjukkan siapa yang arogan, sombong dan angkuh, masa bodoh, rakus atau yang peduli pada sesama. Dan pada akhirnya dunia menjadi lebih indah, dengan memberikan kesempatan bumi beristirahat kembali ke fitrahnya

Corona memang sangat dahsyat mengubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dengan hanya membalikkan telapak tangan. Ya.. virus ini tidak hanya sekedar virus biasa, tapi lebih dari itu bisa melakukan apa saja. Segala peraturan dunia bisa diubah, apalagi hanya sekedar nafas kita

Sebelum corona datang, banyak kebiasaan yang dianggap sepele. Namun saat corona datang, apa yang selama ini dianggap sepele menjadi sangat penting. Tak peduli dia beriman ataupun tidak beriman, mau tak mau akhirnya tunduk pada peraturan yang memang sebenarnya baik untuk umat manusia. Semua karena corona

Di antara yang relevan berkaitan dengan corona ini, dalam menghindari corona adalah tuntunan dalam agama Islam. Ada banyak contoh di antaranya hidup yang lebih bersih seperti mencuci tangan dengan menggunakan air, mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas, rajin mandi hingga etika bersin dan batuk. Begitu juga menjaga jarak, penggunaan hijab, tidak berjabat tangan, tidak bersentuhan dengan sembarang orang, tinggal di rumah saja hingga protokol penguncian suatu wilayah atau lockdown

Dunia mengakui tuntunan Islam sangat relevan dalam mencegah penyebaran virus corona

Mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan memakai sabun yang disarankan Badan Kesehatan Dunia WHO telah dijelaskan jauh sebelumnya ribuan tahun lalu oleh Nabi Muhammad SAW

Hadis mengenai mencuci tangan ini dari HR. Muslim seperti yang dinarasikan oleh Abu Hurairah

Rasulullah SAW mengingatkan, “Ketika kamu bangun tidur, dia seharusnya cuci tangan tiga kali sebelum beraktivitas karena dia tidak tahu kondisi tangannya saat malam hari.“
(HR.  Muslim)

Ini merupakan hadis shahih. Hadis ini mengingatkan akan pentingnya mencuci tangan sebelum melakukan aktivitas. Cuci tangan memastikan tangan bersih dan tidak ada virus serta bakteri yang beresiko menginfeksi tubuh

Mencuci tangan merupakan kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian seorang muslim. Mencuci tangan merupakan bagian dari menjaga kebersihan

Beruntungnya umat Islam yang taat pada tuntunan Islam yang membimbingnya selalu ke jalan yang lurus, salah satunya menjaga kebersihan ini. Termasuk hal-hal yang kecil sekalipun, seperti berbasuh dengan menggunakan air (cebok) setelah buang air kecil maupun besar.

Kita ga perlu seperti bule harus gontok-gontokan berebut tisu saat panic buying karena corona sebagai salah satu sarana pembasuh, padahal air berlimpah di bumi barat.

Menjaga kebersihan dimulai dari diri sendiri, keluarga hingga lingkungan. Untuk diri sendiri seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, berwudhu hingga rajin mandi

Wudhu adalah membersihkan anggota badan yang dimulai dari mencuci tangan dilanjutkan dengan anggota tubuh lainnya, yang dilakukan dalam rangka mensucikan diri sebelum melaksanakan sholat

Wudhu termasuk mencuci kaki dan tangan serta anggota tubuh lainnya untuk melakukan ibadah yaitu sholat yang dilakukan lima kali sehari bukanlah hal yang sia-sia

Salah satu bagian wudhu adalah membersihkan hidung

Seperti diketahui masa corona berada di hidung adalah berkisar 3 – 4 jam, kemudian pindah ke saluran pernafasan. Jika kita wudhu dengan menghirup air ke hidung (istinsyaq) setiap sholat maka kita terbebas dari corona, mengingat jarak antara sholat 5 waktu hanya berkisar 3 – 4 jam juga.

Maka beruntunglah orang-orang yang istiqomah shalat

Umat Islam biasa mandi minimal dua kali sehari, apalagi di daerah tropis, bisa tiga kali sehari. Itu belum termasuk untuk mandi wajib, seperti wanita yang selesai haid dan nifas, wajib adanya mandi wajib. Belum lagi bagi suami istri yang selesai berhubungan badan, wajib hukumnya mandi wajib junub. Jadi rajin mandi adalah hal yang biasa untuk seorang muslim dan bukanlah hal yang sia-sia, karena terbukti disamping bersih wangi juga dapat terhindar dari segala bibit penyakit

Selain itu, tuntunan Islam yang sangat relevan dalam pencegahan virus corona adalah etika bersin dan batuk

Agar virus corona tidak menyebar, WHO mengajarkan kepada kita bagaimana etika bersin dan batuk. Gunakan etika bersin dan batuk, tidak asal menyembur keluar. Jika bersin atau batuk harus ditutup agar tidak kena orang lain

Jauh sebelum itu, etika bersin dan batuk ini telah diajarkan oleh nabi kita Nabi Muhammad SAW lebih dari 1400 tahun yang lalu.

“Jika bersin, baginda menutupi wajahnya dengan kedua tangan atau bajunya, dan mengecilkan suaranya“.
(HR. At Tirmidzi No. 2745)

Selain mencegah orang lain terkena bersin dan batuk kita, etika bersin dan batuk merupakan hal yang elegan dan sopan serta menghormati orang di sekitarnya

Kemudian makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang

Corona mengajarkan kita akan makan makanan yang sehat, bergizi seimbang dan tidak makan makanan yang ekstrim seperti hewan liar, hewan rumahan seperti anjing dan kucing, hewan mati dan terlarang

Makanlah makanan yang bersih dan yang baik asal serta zatnya, jangan berlebihan dan rakus. Karena apa yang kita makan mencerminkan diri kita

Telah banyak bukti makan hewan ekstrim dan haram merupakan sarang penularan virus corona yang sangat manjur

Beruntunglah seorang muslim yang mengetahui hal ini jauh sebelum corona hadir. Tidaklah sulit seorang muslim yang taat mematuhi untuk makan makanan yang bersih dan halal sesuai tuntunan agama karena sudah sedari kecil diajarkan hal demikian

Kini, mereka yang makan sembarangan berpikir seribu kali kalo tidak mau mati konyol karena corona

Sebelum corona viral, banyak yang memandang aneh wanita yang memakai niqab ataupun jilbab. Ga sedkit yang curiga ada motif di balik penggunaan busana muslimah yang nyaris menutupi seluruh tubuh kecuali wajah atau mata dan telapak tangan

Siapa sangka pada akhirnya mereka sadar memang perlunya penggunaan busana yang serba tertutup. Tak perlu bukti, cukup neng corona hadir ke bumi maka mereka pun menggunakan layaknya busana muslimah seperti alat pelindung diri atau APD atau minimal memakai masker

Jadi jelas ya wanita yang memakai niqab ataupun jilbab bukanlah bentuk diskriminasi terhadap wanita, tetapi sebagai bentuk penjagaan diri

Begitu juga dengan tidak berjabat tangan, tidak bersentuhan dengan lawan jenis

Sebelum corona datang, banyak yang menganggap seorang muslim yang tidak berjabat tangan dan tidak bersentuhan dengan lawan jenis adalah tindakan yang norak, tidak ramah, tidak gaul dan sebagainya. Belum lagi banyak komunitas yang memandang sinis dan menganggap hal ini mengekang hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi

Padahal tidak berjabat tangan dan tidak bersentuhan dengan lawan jenis dilakukan sebagai bentuk ketaatan dan patuh pada ajaran agama. Lagipula dapat terjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan

Siapa sangka kini mereka harus gigit jari. Jika dulunya bebas merdeka tak ada rasa malu seperti dunia hanya milik mereka berdua, ciuman dan pelukan di depan umum, kini nampaknya harus diakhiri dulu

Social distancing seperti menjaga jarak minimal satu meter, tidak berjabat tangan, tidak bersentuhan dengan lawan jenis maupun sesama jenis seperti berpelukan dan berciuman harus dihindari kalo tidak mau terpapar atau bahkan mati karena virus bermahkota tak kasat mata ini

Begitu juga dengan Stay at home/tinggal di rumah yang merupakan salah satu langkah pencegahan penyebaran virus corona

Dulu wanita yang tidak keluar rumah dianggap wanita kurang pergaulan atau kuper bahasa gaulnya dan yang ekstrimnya disebut sebagai diskriminasi terhadap wanita

Saat corona datang, barulah orang-orang mengerti betapa perlunya berdiam diri di rumah, tidak berkeliaran apalagi keluyuran di luar rumah untuk hal-hal yang tidak perlu

Seorang muslim, baik wanita maupun laki-laki yang terbiasa berdiam diri di rumah, berkumpul dengan keluarga tidak akan haus mencari hiburan di luar rumah. Mereka tidak akan stres tertekan jiwanya karena butuh hiburan karena ada keluarga yang lebih dari cukup menghibur dan membahagiakan, yang merupakan harta yang paling berharga

Karena corona, banyak tempat hiburan, kelab malam, bar dan tempat biasa orang bermaksiat di tutup. Tanpa perlu dikomando, tanpa teriak sampat urat leher keluar. Hebatnya, terjadi di negara barat yang bebas. Padahal sebelum corona datang, mana ada yang sanggup menutup tempat-tempat seperti ini? Akan aneh jika ada yang berani memerintahkan menutup. Paling main ‘cakar-cakaran‘ dulu

Saat corona semakin menggila, penguncian suatu wilayah diberlakukan. Protokol penguncian suatu wilayah atau lockdown sangat bermanfaat dalam pencegahan penyebaran virus corona, untuk mencegah virus corona menyebar semakin tidak terkendali dan ikut memutus rantai penularan

Jauh sebelum corona datang, ribuan tahun lalu Rasulullah SAW telah mengajarkan kita pentingnya lockdown ini yaitu pelarangan memasuki atau keluar suatu wilayah yang sedang ada wabah dan hikmah bagi seorang muslim yang tidak kabur dari wilayah wabah

Dilarang masuk atau keluar kota dengan wabah

“Jika kalian mendengar tentang tho‘un di suatu tempat maka janganlah mendatanginya dan jika mewabah di suatu tempat sementara kalian berada di situ maka janganlah keluar karena lari dari tho’un tersebut.“
(HR. Bukhari)

Hadis ini dinarasikan oleh Usama bin Zaid dengan derajat yang shahih. Tho’un adalah wabah yang mengakibatkan penduduk sakit dan beresiko menular jika penduduk kota tersebut terus bergeak

Hikmah bagi muslim yang tidak kabur dari wilayah wabah

Rasulullah SAW mengatakan kematian akibat wabah adalah syahid bagi tiap muslim
(HR. Bukhari)

Hadis ini dinarasikan oleh Anas bin Malik dengan derajat yang sahih. Dengan tetap berada di wilayahnya, seorang muslim menekan resiko penularan pada orang lain

Nah demikianlah hikmah yang dapat dipetik dari adanya corona. Bagaimana corona bisa mengubah peraturan dunia yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bagaimana isi bumi akhirnya tunduk pada peraturan yang relevan dengan tuntunan Islam, yang sebelum corona, jangankan simpati, memikirkannya pun tidak

Selain daripada itu, banyak hikmah dan pembelajaran yang diambil karena corona.

Manusia kembali mengingat Allah, tidak mencela dan mencaci maki keberadaan corona karena ini merupakan ujian keimanan, selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepada kita, sebagai peringatan Allah dengan memberi kesempatan pada kita untuk melihat bahwa mati itu dekat sekali dan nyata, dan agar kita selalu bersiap diri menghadap-Nya kapanpun

Dengan ditiadakannya pulang kampung, kita diingatkan akan akhirat dan tidak terlena dengan dunia yang melenakan, begitu juga Allah mengingatkan kita akan rumah ibadah.

Adanya stay at home membuat kita berkumpul dan lebih dekat dengan keluarga. Dengan adanya corona, juga memunculkan sikap peduli pada sesama

Corona telah membuat banyak orang kelimpungan dan berbagai rasa campur aduk, dari cemas, kesal hingga tak berdaya. Dunia pun dibuat repot, dengan banyaknya yang terinfeksi dan jiwa yang melayang. Belum lagi keterpurukan ekonomi dan banyak sendi-sendi kehidupan merana

Kita tidak sepatutnya mencela dan mencaci maki corona karena keberadaannya bagaimanapun terjadi karena kehendak Allah. Jika pun ada manusia yang sengaja membuat makar untuk menghancurkan dunia, maka makar Allah lebih dari segalanya. Bahkan mereka pun tak sanggup mengendalikannya dan berbalik menimpa mereka

Virus ini adalah salah satu dari sekian banyak mahluk ciptaan Allah. Kita harus yakin bahwa tidak ada satupun dari mahluk ciptaan-Nya yang sia-sia dan tidak berguna. Salah satunya adalah sebagai ujian keimanan dan kesabaran

Allah SWT berfirman:

Duhai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau Karena itu peliharalah kami dari siksa neraka
(QS. Al-Imran ayat 191)

Kemunculan wabah corona ini membawa hikmah pada kita bahwa ini merupakan ujian keimanan bagi kita. Menjadikan kita InsyaAllah aamin semakin taat kepada Allah SWT dan semakin khusyuk beribadah kepada-Nya.

Allah berfirman:

Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecoa) dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa semuanya itu merupakan satu kebenaran dari Tuhan mereka
(QS. Al-Baqarah ayat 26)

Hikmah selanjutnya, kita menjadi lebih mensyukuri nikmat yang diberikan kepada Allah untuk kita, sekecil apa pun itu

Contohnya seperti bernafas. Allah masih mengijinkan kita untuk bernafas. Meski kita sering menganggap ini adalah hal yang biasa. Namun bagaimana jika Allah mengambil nafas kita sedikit saja? Sedangkan kelamaan memakai masker, kita terkadang merasa sesak. Bagaimana jika Allah menghilangkan oksigen dari dunia ini?

Makanya selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berika kepada kita. Mungkin selama ini kita kurang bersyukur, tidak ada kata terlambat mulainya saat ini selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita sekecil apapun itu

Begitu juga hikmah dengan diberinya kita kesempatan untuk melihat bahwa mati itu nyata dan dekat dengan kita dan peringatan Allah akan kampung yang abadi akhirat

Sejak kedatangannya akhir Desember tahun lalu hingga saat ini, corona bukannya segera pergi malah semakin sering menghampiri bertubi-tubi, pun di kota pertama kali virus ini dilaporkan yaitu Wuhan, Cina.

Sering kita lihat dan nyata adanya, baru seminggu dia sehat-sehat saja, dua hari kemudian masuk rumah sakit dan hari ini menghadap Ilahi.

Dengan adanya pandemi ini, kita sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Semua yang kita miliki ini adalah milik Allah. Allah bisa mengambilnya kapan saja

Kita tidak tahu kapan corona ini pergi, kapan cerita ini akan berakhir, kapan keresahan ini akan berhenti, kapan iman ini akan terus berjalan terombang ambing, namun yang pasti memulai dan mengakhiri adalah hal yang mudah bagi Allah

Bukankah semakin hari semakin terasa dekat tanda-tanda-Nya? Mungkin, hari itu tidak akan lama lagi. Maka, bersiap sedialah menghadapi segala kemungkinan. Benahi perilaku kita, ibadah kita mumpung masih ada waktu

Corona menyebabkan banyak orang tidak bisa pulang ke kampung halamannya atau menjumpai keluarga yang dikasihi seperti orangtua, istri, suami atau anak-anak.

Pastinya kita merasa sedih tidak bisa berkumpul dengan keluarga yang dikasihi dalam momen yang bahagia yang telah ditunggu sekian lama. Namun pada akhirnya, di balik semua ini pasti ada hikmahnya

Tidaklah mengapa jika ditunda untuk sementara waktu demi kemaslahatan bersama, demi mencegah penyebaran virus corona. Pulang kampung belumlah seberapa bila dibandingkan pulang ke kampung yang abadi yaitu akhirat.

Dengan adanya corona, Allah mengingatkan kita akan pentingnya menomorsatukan akhirat dan tidak lalai dengan dunia yang melenakan. Jangan menomorduakan akhirat karena dunia hanya sementara tempat persinggahan. Rumah manusia sesungguhnya adalah akhirat. Maka mari kita perbanyak investasi akhirat sebagai bekal untuk pulang kampung yang abadi.

Selanjutnya adalah penutupan tempat ibadah. Mungkin kita akan merasa hal ini tidaklah bijaksana. Namun dengan kejernihan hati, kita dapat melihat adanya hikmah di balik ini

Corona yang semakin mengganas mengakibatkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran virus ini. Untuk meminimalisir penyebaran virus yang beresiko di keramaian, maka pada zone merah dilarang berkumpul di keramaian atau ruang publik seperti rumah ibadah

Ibadah untuk umat muslim yaitu sholat dan sholat Jum’at di masjid ditiadakan. Maka saat itulah, sebagai orang yang masih memiliki iman, kita tersadar akan rumah ibadah kita

Saat rumah ibadah ditutup, kita akan tersadar betapa indahnya sholah berjemaah di masjid. Bahkan yang jarang ke masjid juga seperti disentil hati nuraninya, kapan terakhir kali mengunjungi rumah ibadah.

Maka jangan berterimakasih pada corona, berterimakasihlah pada Allah yang mengingatkan kita. Corona hanya penghubung, segala-galanya adalah kuasa Allah

Hikmah selanjutnya dengan kehadiran corona adalah munculnya sikap saling peduli dan saling membantu kepada yang membutuhkan. Padahal mungkin sebelumnya kita kurang peduli. Namun karena merasa sama-sama menderita karena corona, jiwa sosial muncul dengan sendirinya

Bandara ditutup, tak menerima kita jalan-jalan agar uang itu untuk membantu sesama. Banyaknya yang tidak bisa berjualan di luar rumah, dapat kita bantu dengan membeli jualannya secara online atau antar ke rumah. Yang memiliki keahlian atau pengetahuan atau ilmu mengenai virus ini, dapat menyampaikan kepada warga yang mungkin masih awam dengan tiada bosan dan putus-putusnya

Nabi besar kita Muhammad SAW sudah mengajarkan kita arti kepedulian akan sesama ribuan tahun lalu

Rasullulah bersabda:

Tidak beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga yang ada di sampingnya kelaparan sedang ia mengetahuinya

(HR. Tabrani)

Begitu juga dengan adanya peraturan pemerintah agar kita tinggal di rumah hingga bekerja di rumah atau istilah internasionalnya adalah stay at home dan work from home, maka ada banyak hikmah yang bisa dipetik

Suami, istri dan anak-anak kembali berada di rumah. Berkumpul bersama-sama. Membawa keluarga bersama kembali dalam rumah dan melakukan aktivitas rumah bersama.

Menjadi lebih dekat dengan keluarga. Kalo selama ini orangtua sibuk bekerja mungkin tidak sempat memikirkan keseharian anaknya, saat ini diberi kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan mereka. Lebih memiliki waktu untuk memperhatikan anak, tumbuh kembangnya. Mungkin yang selama ini tidak memperhatikan anaknya yang sekarang sudah beranjak remaja, padahal baru kemarin rasanya menimang mereka. Membantu anak mengerjakan tugas sekolah juga mengajarkan mereka suatu bentuk tanggungjawab dan kemandirian seperti perkerjaan rumah tangga yang ringan membersihkan kamar sendiri

Suami istri menjadi semakin mesra dan harmonis, bisa saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Beribadah bersama-sama di rumah. Selaku kepala rumah tangga menjadi imam sholat hingga bisa menjadi panutan anak dan keluarga, membaca kitab suci bersama keluarga tercinta.

Dengan adanya corona, hikmah yang didapat adalah menyadari bahwa kita tidaklah ada apa-apanya dibanding kuasa Allah, maka janganlah takabur dan sombong

Memang adakalanya manusia menjadi sangat angkuh dan sombong. Padahal dengan melihat kenyataan pandemi ini, seharusnya menjadikan manusia sadar betapa lemahnya mereka. Jangankan menghadapi Allah, menghadapi mahluk ciptaan-Nya yang paling kecil sekalipun mereka tak berdaya. Seharusnya manusia juga sadar, sesuatu yang tidak kasat mata bukan berarti tidak ada dan tidak akan pernah ada

Kesombongan akan runtuh oleh corona yang hanya berukuran nano meter. Jangankan kita warga biasa, para penguasa yang sombong dan durjana pun kewalahan dalam menghadapi corona. Corona melemahkan mereka dan para diktator dunia yang selama ini sombong. Corona bahkan membungkam kesombongan negara yang selama ini menganggap paling hebat dan tak terkalahkan

Maka janganlah sombong dan angkuh menganggap diri kebal. Begitu juga penguasa yang angkuh dan sombong dan zalim kepada rakyatnya. Karena mudah bagi Allah untuk membolak balikkan keadaan bahkan untuk sekedar mencabut nyawa.

Sebagai warga, sepatutnya patuhi saran pemerintah, pakar kesehatan, tenaga medis termasuk dokter, perawat dan jajarannya bahkan orangtua kita untuk menghindari penyebaran virus yang semakin pintar ini

Kehadiran corona ini membuka mata hati kita untuk meminta pengampunan, perlindungan dan pertolongan Yang Maha Kuasa Allah SWT.

Dan pada akhirnya, dunia menjadi lebih indah. Karena corona, bumi kembali ke fitrahnya

Corona memaksa dunia ke dalam karantina. Kota-kota yang tidak pernah tidur akhirnya terpaksa tidur, mereka diisolasi. Bumi yang biasanya ramai dipenuhi manusia dengan segala aktivitasnya, mendadak lengang. Transportasi publik baik darat, laut dan udara yang ikut andil mengotori bumi dengan menyemburkan polusi udaranya, seketika mendadak lengang juga.

Tanpa orang-orang di jalan atau pabrik-pabrik bekerja sesuatu yang menakjubkan terjadi, dimana tingkat polusi menurun. Pabrik adalah salah satu penyumbang polusi udara. Ga hanya itu, pemandangan langka terjadi. Hewan-hewan mendadak turun gunung, dikomandoi pemimpinnya mereka melenggang bebas memasuki kota. Ga da yang larang. Di Eropa, selain melenggang kangkung, bunga-bunga di taman ga urung dicicpi para hewan. Gimana rasanya bunga-bunga orang kota ya? Sambil sesakali celingak celinguk, nih orang pada kemana ya.. sepi mengheningkan cipta

Kualitas udara meningkat lebih baik. Langit berubah menjadi biru jernih bersih berseri. Terlihat perubahan dari bumi yang sedang beristirahat ini.

Penurunan emisi ini begitu berarti. Dengan adanya penurunan emisi dan perubahan bumi yang berisitirahat, otomatis akan bisa melindungi banyak kehidupan

Sepertinya corona memang memberi kesempatan bumi untuk beristirahat. Jangan ganggu dia, biarkan bumi melakukan pemulihan diri

Sesungguhnya Allah menurunkan sesuatu tidaklah dengan sia-sia. Allah menurunkan sesuatu dengan hikmah, menjadi pelajaran bagi mahluk yang berpikir dan memiliki akal sehat

 

Bir cevap yazın