Corona membuat manusia kembali mengingat Allah dan bersyukur pada-Nya

835 Views

Virus corona mengguncang dunia. Sejak keberadaanya yang dilaporkan pertama kali di kota Wuhan, Cina pada akhir tahun 2019 lalu, hingga pertengahan April ini telah merenggut nyawa ratusan ribu orang dan dua juta orang terpapar. Sangat cepat penyebarannya dan menghampiri siapa saja umat manusia, melalangbuana hingga hampir seluruh dunia

Dahsyatnya corona membuat banyak orang kelimpungan dan berbagai rasa campur aduk, dari cemas, kesal hingga tak berdaya. Dunia pun dibuat repot, dengan banyaknya yang terinfeksi dan jiwa yang melayang. Belum lagi keterpurukan ekonomi dan banyak sendi-sendi kehidupan yang merana

Bagaimana sikap kita sebagai orang yang beriman?

Sebagai seorang mukmin, tidaklah patut mencela dan menyalahkan corona, meskipun kita tahu betapa mengerikan wabah ini.

Kita semestinya sadar bahwa virus ini adalah salah satu dari sekian banyak mahluk ciptaan Allah. Kita harus yakin bahwa tidak ada satupun dari mahluk ciptaan-Nya yang sia-sia dan tidak berguna. Salah satunya adalah sebagai ujian keimanan dan kesabaran

Allah SWT berfirman:

Duhai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau Karena itu peliharalah kami dari siksa neraka

(QS. Al-Imran ayat 191)

Kita bersyukur Allah mengingatkan kita dengan adanya wabah ini, sebagai ujian keimanan kita. Jika tidak berlapang dada, yang ada malah kita mencaci maki. Padahal semua ini terjadi atas kehendak Allah. Memang jika seandainya virus ini adalah buatan manusia yang diciptakan untuk menghabisi umat manusia di bumi ini, nauzubillahiminzalik betapa jahatnya makar mereka, namun makar Allah lebih kuat. Tiada daya upaya mereka karena pada akhirnya segala-galanya ada pada Yang Maha Kuasa Allah SWT

Hendaknya kemunculan wabah corona ini sebagai ujian keimanan kita

Allah SWT berfirman:

Sungguh Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah (kecoa) dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa semuanya itu merupakan satu kebenaran dari Tuhan mereka

(QS. Al-Baqarah ayat 26)

Adanya wabah ini InsyaAllah aamiin menjadikan kita semakin mendekat kepada Allah, semakin taat kepada Allah SWT dan semakin khusyuk beribadah kepada-Nya.

Karena corona ini juga, yang membuka mata hati kita untuk meminta pengampunan, perlindungan dan pertolongan-Nya

Sebagai seorang muslim, betapapun dahyatnya corona, tetaplah kita selalu bersyukur. Contoh kecil saja seperti bisa bernafas. Allah masih mengijinkan kita untuk bernafas. Bayangkan saat kita kelamaan memakai masker, kita terkadang merasa sesak. Bagaimana jika Allah menghilangkan oksigen dari dunia ini?

Makanya sudah sepatutnya kita selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Mungkin selama ini kita kurang bersyukur, tapi tidak ada kata terlambat untuk memulainya. Mulai saat ini selalu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita sekecil apapun itu

Dengan adanya corona ini, kita bersyukur Allah memberi kesempatan kita untuk melihat bahwa mati itu nyata dan dekat dengan kita

Sejak kedatangannya akhir Desember tahun lalu hingga saat ini, corona bukannya segera pergi malah semakin sering menghampiri bertubi-tubi, pun di kota pertama kali virus ini dilaporkan yaitu Wuhan, Cina. Setiap hari ada saja laporan nyawa yang melayang dari berbagai negara akibat terjangkit virus ini

Seringkali juga kita lihat dan nyata adanya, baru seminggu dia sehat-sehat saja, dua hari kemudian masuk rumah sakit dan hari ini menghadap Ilahi.

Betapa dahsyatnya virus ini mengambil jiwa manusia

Dengan adanya pandemi ini, kita sadar bahwa kematian bisa datang kapan saja. Semua yang kita miliki ini adalah milik Allah. Allah bisa mengambilnya kapan saja

Kita juga bersyukur dengan adanya pandemi ini, Allah sedang memperingatkan kita akan tanda-tanda-Nya. Mungkin hari yang dinanti tidak akan lama lagi

Kita tidak tahu kapan corona ini pergi, kapan cerita ini akan berakhir, kapan keresahan ini akan berhenti, kapan iman ini akan terus berjalan terombang ambing, namun yang pasti memulai dan mengakhiri adalah hal yang mudah bagi Allah

Bukankah semakin hari semakin terasa dekat tanda-tanda-Nya? Mungkin, hari itu tidak akan lama lagi. Maka, bersiap sedialah menghadapi segala kemungkinan. Benahi perilaku kita, ibadah kita, mumpung masih ada waktu

Kita juga bersyukur di tengah pandemi ini, Allah menjadikan kita jiwa yang sabar, menerima dengan lapang dada ketentuan Allah, tidak mencaci maki beberadaan virus tak bermahkota ini

Kita diingatkan Allah betapa kecilnya dan tak berdayanya kita dengan virus penyebab COVID-19 yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan ini

Namun manusia adakalanya menjadi sangat angkuh dan sombong. Padahal dengan melihat kenyataan pandemi ini, seharusnya menjadikan manusia sadar betapa lemahnya mereka. Jangankan menghadapi Allah, menghadapi mahluk ciptaan-Nya yang paling kecil sekalipun mereka tak berdaya. Seharusnya manusia juga sadar, sesuatu yang tidak kasat mata bukan berarti tidak ada dan tidak akan pernah ada

Kesombongan akan runtuh oleh corona yang hanya berukuran nano meter. Jangankan rakyat biasa, para penguasa pun banyak yang tidak berdaya menghadapi corona

Corona melemahkan para diktator dunia yang selama ini sombong dan durjana. Corona membungkam kesombongan negara yang selama ini menganggap paling hebat dan tak terkalahkan

Maka janganlah sombong dan angkuh, apalagi menganggap diri kebal. Begitu juga penguasa yang angkuh dan sombong dan zalim kepada rakyatnya. Karena mudah bagi Allah untuk membolak balikkan keadaan bahkan untuk sekedar mencabut nyawa.

Lemah lembutkan hati, patuhi saran pemerintah, pakar kesehatan, tenaga medis termasuk dokter, perawat dan jajarannya bahkan orangtua kita dalam menghindari penyebaran virus yang semakin pintar ini sehingga dapat memutus rantai penyebarannya seoptimal mungkin

Kita juga bersyukur di tengah-tengah kekacauan dan keterpurukan karena pandemi ini, kita tidak berputus asa. Kita tidak sendiri menghadapi dan mengalaminya. Masih banyak yang senasib dengan kita, malah yang lebih menderita dari kita.

Kehadiran corona memunculkan sikap saling peduli dan saling membantu kepada yang membutuhkan. Padahal mungkin sebelumnya kita kurang peduli. Namun karena merasa sama-sama menderita karena corona, jiwa sosial muncul dengan sendirinya.

Maka sangatlah bersyukur kita masih banyak yang berjiwa sosial, masih banyak yang peduli pada kita dengan memberikan nasihatnya dan berbagi pengetahuan. Bahkan tak segan memberikan materi agar tidak kekurangan dan kebutuhan selama corona tercukupi

Nabi besar kita Muhammad SAW sudah mengajarkan kita arti kepedulian akan sesama ribuan tahun lalu

Rasullulah bersabda:

Tidak beriman kepadaku orang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga yang ada di sampingnya kelaparan sedang ia mengetahuinya
(HR. Tabrani)

Begitu juga, kita bersyukur masih ada yang peduli dengan sumbang sarannya demi memutus rantai penyebaran corona

Padahal tidak mudah lho menyampaikan kebenaran apalagi pada mereka yang tidak mengerti dan sangat angkuh, arogan dan sombong. Menyampaikan kebenaran memang menyesakkan dada, pahit getir tidak selalu manis karena tidak tidak selalu diterima dengan hati terbuka

Seseorang yang mengerti akan pandemi corona seringkali diremehkan bahkan dilawan saat menyampaikan kebenaran, seperti perlunya lockdown, karantina, menjaga jarak hingga stay at home atau tinggal di rumah. Padahal menyampaikan kebenaran adalah demi kebaikan bersama.

Jangankan kita, seorang sekelas sahabat nabi pun yaitu Utsman bin Affan harus terbunuh saat menyampaikan kebenaran.

Tapi tidak ada cara selain menyampaikan kebenaran di saat situasi corona ini daripada tidak sama sekali. Tidak ada cara lain demi kebaikan bersama. Katakanlah kebenaran meskipun itu pahit

Selain itu banyak sekali yang patut kita syukuri di tengah pandemi ini

Kita bersyukur karena corona, Allah mengingatkan kita akan pentingnya kehidupan setelah mati, agar kita tidak terlena dengan dunia yang melenakan ini

Benar, corona menyebabkan banyak orang tidak bisa pulang ke kampung halamannya atau menjumpai keluarga yang dikasihi seperti orangtua, istri, suami atau anak-anak. Tapi bukan tanpa alasan. Semua ini demi kemaslahatan kita, demi mencegah penyebaran virus corona

Tidaklah mengapa jika ditunda untuk sementara waktu demi kemaslahatan bersama, demi mencegah penyebaran virus corona agar secepatnya putus dan segera pergi dari dunia ini.

Lagipula, pulang kampung belumlah seberapa bila dibandingkan pulang ke kampung yang abadi yaitu akhirat.

Dengan adanya corona, Allah mengingatkan kita akan pentingnya menomorsatukan akhirat dan tidak lalai dengan dunia yang melenakan. Jangan menomorduakan akhirat karena dunia hanya sementara tempat persinggahan. Rumah manusia sesungguhnya adalah akhirat. Maka mari kita perbanyak investasi akhirat sebagai bekal untuk pulang kampung yang abadi.

Kita bersyukur, dengan adanya corona ini, Allah mengingatkan kita akan rumah ibadah

Corona yang semakin mengganas mengakibatkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah pencegahan penyebaran virus ini. Untuk meminimalisir penyebaran virus yang beresiko di keramaian, maka pada zone merah dilarang berkumpul di keramaian atau ruang publik seperti rumah ibadah

Ibadah untuk umat muslim yaitu sholat dan sholat Jum’at di masjid ditiadakan. Maka saat itulah, sebagai orang yang masih memiliki iman, kita tersadar akan rumah ibadah kita

Saat rumah ibadah ditutup, kita akan tersadar betapa indahnya sholah berjemaah di masjid. Bahkan yang jarang ke masjid juga seperti disentil hati nuraninya, kapan terakhir kali mengunjungi rumah ibadah.

Maka jangan berterimakasih pada corona, berterimakasihlah pada Allah yang mengingatkan kita. Corona hanya penghubung, segala-galanya adalah kuasa Allah

Kita bersyukur dengan adanya corona, kita bisa bekumpul kembali dengan keluarga

Dengan adanya peraturan pemerintah agar kita tinggal di rumah hingga bekerja di rumah atau istilah internasionalnya adalah stay at home dan work from home, maka ada banyak hikmah yang bisa dipetik

Suami, istri dan anak-anak kembali berada di rumah. Berkumpul bersama-sama, lengkap personilnya. Bisa melakukan aktivitas rumah bersama. Menjadi lebih dekat dengan keluarga, sesama anggota keluarga.

Jika selama ini orangtua sibuk bekerja mungkin tidak sempat memikirkan keseharian anaknya, saat ini diberi kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengan mereka. Lebih memiliki waktu untuk memperhatikan anak, tumbuh kembangnya. Tersadar mungkin yang selama ini tidak memperhatikan anaknya tahu-tahu sekarang sudah beranjak remaja, padahal baru kemarin rasanya menimang mereka. Orangtua juga bisa membantu anak mengerjakan tugas sekolah, bahkan mengajarkan suatu bentuk tanggungjawab dan kemandirian pada anak-anak pekerjaan rumah tangga yang ringan, seperti membersihkan kamar sendiri, agar kelak dewasa menjadi pribadi yang mandiri

Suami istri bisa saling membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Beribadah bersama-sama di rumah. Selaku kepala rumah tangga menjadi imam sholat hingga bisa menjadi panutan anak dan keluarga, membaca kitab suci bersama keluarga tercinta.

Alangkah indahnya

 

Bir cevap yazın