Mensiasati panic buying karena corona

153 Views

Virus corona yang kehadirannya diketahui sejak bulan Desember tahun 2019 kemarin di Wuhan negara Cina ini menyebabkan kepanikan luar biasa di bumi. Ini dikarenakan si virus telah merenggut ribuan jiwa dalam penyebarannya yang sangat cepat hingga hampir ke seluruh dunia

Panik ga hanya bagaimana menjaga diri agar tidak diinfeksinya melainkan panik juga bagaimana akan makan selanjutnya. Ya.. ketakutan akan tak mendapatkan yang dibutuhkan sementara harus tinggal lama di rumah demi tidak ketularan virus bermahkota tak kasat mata ini menyebabkan terjadinya panic buying

Apa sih panic buying itu? Panic buying adalah panik dalam berbelanja sehingga hilang pikiran untuk membeli yang benar-benar dibutuhkan. Ga jarang pelaku panic buying memborong belanjaan dalam jumlah besar, merasa takut kehabisan dan ga kebagian. Dengan memborong, hati tenang ga cemas karena ada stok simpanan.

Tapi apakah dengan pemikiran demikian dapat dibenarkan dan memang langkah yang benar dan tepat mengantisipasi segala kemungkinan?

Panic buying ga hanya salah tetapi juga menyusahkan orang lain yang memang benar-benar membutuhkan. Karena ga hanya si dia saja yang butuh, yang lainnya juga. Kalo masih muda mungkin bisa keluar rumah berbelanja lagi kalo dirasa kekurangan, nah kaum lansia bagaimana..

Di banyak negara termasuk tanah air tercinta terjadi panic buying. Bahkan panic buying menyebabkan insan satu sama lain harus rebut-rebutan dan sikut sikutan

Bagaimana di Austria?

Di tempat kita tinggal yang merupakan kota kecil, awal Maret belum ada tanda-tanda panic buying meski ane dengar berita di kota sebelah dan negara tetangga pada heboh panic buying, tisu toilet dan segala tisu lenyap ga berbekas diborong pembeli, begitu juga aneka roti seperti roti tawar.

Pembeli ramai tapi ga sampai heboh. Hanya ada beberapa pembeli yang membeli sedikit berlebih seperti kentang hingga 3 jaring seberat masing-masing 2 kg dan beberapa pak tisu. Tapi rak-rak penjualan beserta isinya masih lengkap dan normal

Nah yang mulai agak heboh adalah saat pertengahan bulan dimana pembeli membludak karena adanya berita lockdown di wilayah Tyrol, sedangkan di tempat kita diterapkan stay at home atau tinggal di rumah oleh pemerintah. Beberapa rak terlihat kosong, seperti rak berbagai tisu dan roti termasuk makanan olahan seperti nugget.

Nah kalo sudah seperti ini, bagaimana sih cara menyikapi panic buying? Ngomel ke pelaku panic buying ga mungkin juga ya karena hak setiap orang mau membeli sebanyak-banyaknya, meski caranya yang berlebihan sangat ga bijaksana.. atau ikutan panic buying juga? Kalo begitu apa bedanya kita sama mereka..

Daripada pusing mikirin kelakuan orang, ntar bisa-bisa kita yang ikut-ikutan panik dan cemas, ujung-ujungnya stres kan ga baik untuk kesehatan ya, lebih baik kita cari cara yuk untuk mensiasati panic buying ini. Bagaimana caranya? Mari kita cek bersama-sama:

Harap tetap tenang.
Jaga emosi kita jangan ikut panik dan cemas. Kalo cemas dan banyak pikiran, daya tahan tubuh mudah menurun. Ingat selalu, virus mudah menyerang dan menginfeksi tubuh dengan daya tubuh yang lemah. Jadi jangan sampai daya tahan tubuh kita lemah ya. Dengan hati yang tenang, pikiran kita juga tenang. Dengan begini, pikiran kita lebih jernih untuk memikirkan langkah selanjutnya. Apa itu?
Lanjut ya..

Cerdas dalam berbelanja
Belilah sesuai kebutuhan dan kemampuan. Bagaimana caranya? Kita bisa membuat daftar belanja, apa saja yang kita butuhkan,  untuk berapa lama dan tentunya sesuai dengan kemampuan kita. Dengan adanya daftar belanjaan, kita bisa menghemat uang dan waktu. Kita ga perlu membeli sesuatu yang sia-sia. Belanja pun ga perlu berlama-lama. Mantap kan.. selanjutnya apa lagi?

Keselamatan diri saat berbelanja
Jangan lupa untuk menjaga jarak dengan pembeli, minimal dalam jarak 1 meter. Kalo di pasar tradisional, selain dengan pembeli, juga menjaga jarak dengan pedagang. Selalu menjaga kebersihan tangan, jangan alay sentuh ini itu. Karena kita telah membuat daftar belanja, manfaatkan dengan tidak berlama-lama belanja. Jangan ngobrol asyik dengan pembeli dan pedagang. Di situasi yang genting seperti saat ini, parno begini bisa dimaklumi.
Selain berbelanja langsung ke supermarket, kita juga bisa beralih berbelanja online untuk meminimalisir kontak. Pilihan tergantung pada kita

Kalo seandainya yang dibutuhkan tidak ada, bagaimana? Cari supermarket yang lainnya atau belanja online adalah pilihan selanjutnya. Nah untungnya di tempat kita tinggal, supermarket berada dalam area kompleks dimana berbagai bangunan perbelanjaan berkumpul. Supermarket di area ini terhitung ada 3 hingga 4 supermarket, belum lagi apotik dan toko alat tulis. Jadi kita ga bergantung hanya pada satu supermarket saja, ada banyak pilihan tempat seandainya di supermarket yang satu produknya habis

Demikian pemirsa cara kita mensiasati panic buying karena korona. Semoga bermanfaat

 

Bir cevap yazın