Haru biru pengiriman dokumen penting dan barang dari dan ke Eropa, via ekspedisi swasta dan Pos

1.603 Views

Pengalaman pedih ane berurusan dengan pihak ekspedisi membuat ane kapok ga kepalang. Tapi demi perasaan ane yang kangen banget ma kampung halaman, terpaksa ane harus berdamai dengan masa lalu.

Ane kangen masakan Indonesia bo‘ Ane kangen keripik, kerupuk cumi, udang, tekwan, jamur kuping, kembang sedap malam, teri medan, cabe rawit, kemiri, laos, kencur, daun salam dan lain-lainnya. Gimana caranya ya agar ‘harta karun‘ ini sampai ke tempat ane di Eropa dengan selamat, sehat wal‘afiat tanpa cacat?

Ga ada pilihan lain untuk pengiriman barang ke luar negeri di kampung halaman ane kecuali melalui jasa ekspedisi milik BUMN, kantor pos. Ane dah cek jasa pengiriman swasta yang lain ga ada, hanya mentok sampai kota besar aja

Express Mail Service (EMS) adalah layanan pengiriman surat, dokumen dan paket dari dan ke luar negeri. Layanan pengiriman internasional ini dapat digunakan melalui Pos Indonesia, tapi memiliki  biaya ongkos kirim yang berbeda, tergantung negara mana yang dituju, berapa kilo berat pengiriman dan lain-lain.

Saat ane masih di tanah air dan harus mengirimkan dokumen untuk keperluan nikah ke luar negeri ane putar otak musti pake via apa. Maklum reputasi jasa pos terbilang ga begitu mengesankan di mata kebanyakan warga, banyak keluhan meski akhirnya membawa kebahagiaan karena sampai meski harus tekanan batin dulu menunggunya seperti berabad-abad lamanya, jauh dari target waktu yang diharapkan

Saat itu ga mungkin ane berharap dari jasa pos, ane ga mau ambil resiko. Karena calon suami ane saat itu berdomisili di Jerman maka ane memakai jasa ekspedisi swasta yaitu DHL. Dari kampung halaman ane menggunakan jasa ekspedisi swasta JNE, lumayan 3 hari sampai. Dari Jakarta ane menggunakan jasa teman ane yang biasa mengurus keperluan dokumen mereka yang akan menikah dengan warga asing, untuk meneruskan pengiriman paket ane ke luar negeri via DHL.

Lumayan ya tarifnya hanya beberapa lembar kertas (dokumen ane) satu juta rupiah lebih termasuk asuransi. Ga masalah yang penting aman dan sampai tepat waktu. Dan bener pemirsa, hanya memakan waktu 3 hari dokumen ane sampai ke tangan suami (saat itu masih calon suami ane), alhamdulillah. Track recordnya pun jelas, mulai dari jam keberangkatannya Jakarta mampir  ke kota-kota besar di negara-negara transit hingga akhirnya tiba di Eropa

Begitu juga saat suami mengirimkan kembali dokumen ane beserta dokumen miliknya ke Indonesia tetap memakai jasa DHL Karena ini dokumen penting untuk menikah, maka suami pun ekstra membayar lengkap dengan asuransi. Nah, ini yang bikin hati ane berdebar-debar, maklum ya ini dokumen untuk menikah. Salah satunya adalah dokumen status suami yang masih lajang yang disahkan pihak pemerintah di negaranya. Surat sakti inilah yang nantinya diserahkan ke pihak kedutaan untuk diganti dengan surat persetujuan untuk menikah di Indonesia. Kalo sampai nyasar ga sampai tujuan, alamat celaka dua belas! Kita harus bikin dokumen ulang dan itu sangat memakan waktu, bisa sampai setahun. Dan yang miris lagi bisa-bisa batal menikah. Oh no..

Akhirnya sampai juga ke Jakarta Indonesia, kemudian lanjut lagi ke kampung halaman. Biasanya ekspedisi swasta akan mengutus salah satu jasa ekspedisi yang melayani pengiriman untuk ke daerah-daerah. Ane ga tau apakah DHL begitu juga. Ane minta bantuan teman ane lagi  yang berada di Jakarta untuk mengirimkan paket suami ane ke kampung halaman ane.

Kita memakai jasa JNE. Tapi di luar dugaan ane, paket suami datang sangat terlambat. Biasanya hanya butuh 3 hari dah sampai ke kampung halaman ane, ini dah lebih dari seminggu. Ada apa dengan paket suami ane. Ane telpon pihak JNE. Karena ga diangkat-angkat,  akhirnya ane memutuskan ke kantor mereka. Biasanya mereka mengantarkan langsung ke rumah tapi ternyata ini ga. Ok ane maklum karena katanya ada pegawai baru jadi ga tau alamat rumah ane dan mereka sangat sibuk di kantor karena kiriman yang datang dari luar juga sedang banyak-banyaknya.

Biasanya ane ga bermasalah dengan ekspedisi ini, tapi entah kali kedua ini sangat menyesakkan dada.  Yang pertama saat sertifikat/ ijazah A1 kemampuan bahasa Jerman ane yang datang terlambat, lebih dari seminggu. Ane ke kantornya dan menunggu selama lebih dari 2 jam sampai orang-orang yang pada sibuk menunggu dan mengambil kiriman mereka dah pada pulang semua. Tinggallah ane sendiri.

Ane ke kantor mereka lagi saat paket ane kembali bermasalah, datang sangat terlambat. Kali ini ane ga menunggu berjam-jam karena paket ane dah ditemukan dan disiapkan untuk diserahkan ke ane. Sebelum-sebelumnya kita harus menunjukkan nomor resi kiriman kita dan mereka bergegas mencarinya.

Paket suami ternyata ga utuh lagi alias dah dibongkar dan amplopnya pun dah diganti dengan yang sangat murahan. Ane tau karena saat mengirimkan paket ini dari Jerman difoto terlebih dahulu oleh suami. Suami melampirkan beberapa ratus Euro pada amplop yang terpisah. Ane dah bilang jangan mengirim uang dengan dokumen melalui kiriman ini tapi suami ga percaya. Suami mengira sama seperti Eropa kita mengirim beribu-ribu Euro aman-aman aja.

Ane mengira adanya Euro ini yang merupakan sumber masalah keterlambatan pengiriman paket ane dari Jakarta ke kampung halaman ane. Uang ludes, dokumen pun diacak-acak. Masih untung lengkap. Coba kalo ga lengkap bisa batal nikah ane. Apa orang yang maling itu ga memikirkan hal ini? Yang penting uang di pikiran mereka. Yang salah siapa? Suami ane yang melampirkan uang? Tapi kan pihak ekspedisi ga berhak membuka paket sedikit pun, kecuali suami ngirim amunisi 😉  Tahu darimana mereka kalo suami ane mengirimkan paket dengan uang kalo ga melalui scan atau sinar khusus (sinar X)? Manusia awam ga bisa melihat dengan mata telanjang apa yang ada di paket seseorang, apalagi paket suami yang memakai amplop berlapis-lapis dan juga amplop khusus dari pihak DHL

Ini pengalaman ane yang bikin ane kapok berurusan dengan ekspedisi lokal. Masih ada lagi pengalaman ane lainnya yang masih tentang pengiriman paket yang ga kalah hebohnya. Saat itu ane membuat visa untuk liburan ke negara suami dan negara-negara Eropa lainnya (Schengen). Karena untuk pertama kalinya membuat visa, kita harus ke Jakarta melakukan fingerprint. Pihak kedutaan bekerja sama dengan pihak swasta untuk pembuatan visa ini yang berkantor di mall kuningan Jakarta Selatan.

Untuk menghemat waktu dan juga biaya ane memakai jasa ekspedisi mengirimkan paspor ane kalo seandainya visa dah selesai. Di situ memang ada jasa pengiriman paspor. Alhamdulillah ya visa ane selesai dan didapat. Karena ga mudah lho untuk membuat visa ke negaranya suami. Banyak kisah sedih calon pengunjung yang ga bisa ke negara Eropa karena visa mereka ditolak. Ada banyak alasan, dari dokumen yang ga lengkap, dicurigai akan mencari pekerjaan dan numpang hidup di negara Eropa sampai salah membooking hotel untuk tempat tinggal selama di Eropa 😉

Pihak swasta pengurusan visa bekerjasama dengan pihak ekspedisi swasta untuk mengirimkan paspor ane ke rumah. Tapi alamak.. dah dua minggu paspor ane ga juga sampai ke tujuan. Kemana perginya paket ane yang berisi paspor itu ya.. Janjinya ga sampai seminggu dah sampai rumah. Ane awalnya telpon pihak ekspedisi pembuatan visa ane, katanya saat itu juga keluar visa ane, paspor ane dikirim melalui ekspedisi swasta yang mereka tunjuk. Ane telpon pihak ekspedisi yang mana pihak swasta mengirimkan paspor ane melalui ekspedisi ini, tapi apesnya ga juga diangkat. Sampai ‘keriting‘ jari-jari ane dibuatnya

Ane cari alamat yang bisa dihubungi melalui mbah google. Di dapatlah FB page nya. Mulailah ane berkirim pesan di FB page itu tapi ga juga menolong . Heran ane. Padahal ekspedisi ini bertaraf internasional lho, tapi kenapa pengiriman paket ane ga kunjung tiba? Ane baca komen-komen mereka yang bermasalah dengan paket mereka ini dari berbagai negara di penjuru dunia. Ga gampang bo‘!

Kalo tau gitu mending ane ambil sendirilah paspor ane ke Jakarta. Paling habis 5 juta ongkos bolak balik ane ke kampung halaman. Hanya 2 jam perjalanan. Pesawat terbang beroperasi 8 kali sehari di kampung halaman ane.

Menurut logika, paket ane berupa paspor sampai ke rumah setelah selesai mendapatkan visa paling banter sehari. Dari Jakarta pake pesawat ke kampung halaman ane hanya 45 menit saja. Pake pesawat karena kampung halaman ane ma Jakarta dipisahkan lautan. Tapi ini dah berminggu-minggu ga sampai-sampai juga. Ane cek pengiriman di internet, kiriman masih di perjalanan.. Alamak.. jalan kaki apa berenang  ya mereka mengirimkan paket ane 😉

Akhirnya pemirsa setelah berminggu-minggu di perjalanan, dah keriting tangan ane memencet nomor telpon pihak ekspedisi yang ga pernah diangkat, belum lagi protes ane di FB Page mereka, sampai juga paspor ane di kampung halaman. Itu pun ane sabar menunggu karena ane ga tau cabangnya di mana di kampung halaman. Ga ada alamat dan kantor, kayak siluman aja 😉

Akhirnya pihak ekspedisi menelpon ane mengatakan paspor dah sampai di kampung halaman ane. Tapi ane ga puas. Ane telpon balik mereka. Telpon ane diangkat juga sama mbak-mbak di seberang. Ane komplain atas semua ini. Ane pengen tau penjelasannya, tapi sangat ga masuk di akal. Si mbak bilang ane musti maklum karena paket ane hanya beberapa gram, pihak ga bisa mengirimkannya, harus borongan dengan paket-paket lainnya minimal beberapa kilo baru bisa dikirim. Eehh.. apa urusannya dengan paspor ane ya.. kita kan sudah bayar, kok pengirimannya disamakan dengan paket-paket lainnya entah itu paket sembako  dan lain-lain

Kalo orang lain ga ngirim paket selama sebulan, terus paket ane juga mandeg ga dikirim begitu? Walah.. ampun deh. Sangat ga profesional. Untung ane hanya rakyat biasa, coba kalo yang kena pejabat, dah bubar tuh perusahaan 😊

Untung juga visa di paspor ane belum habis masa berlakunya dan waktu keberangatan masih ada. Coba kalo seandainya hari ini jadwal keberangkatan ke Eropa dan paspor ane belum kembali ke tangan ane, celaka dua belas deh! Ke Eropa ga jadi, visa hangus, uangpun melengus. Hhhh…

Makanya ane kapok banget rasanya berurusan dengan kirim mengirim ini. Tapi hati kita selalu memaafkan dan melupakan masa yang lalu demi masa sekarang, masa dimana ane apalagi kalo bukan kangen kelas berat yang melanda ane dengan segala yang berbau kampung halaman 😊

EMS keliatannya menjanjikan nih. Mungkin pihak kantor pos dah berubah sekarang ya. Suami mengirimkan uang melalui Western Union beberapa kali melalui kantor pos karena hanya kantor poslah yang bisa melayani kalo di kampung halaman ane, alhamdulillah pelayanannya mantap ga mengecewakan, selalu tepat waktu, hanya butuh waktu sehari. Ini bikin ane mantap menjatuhkan pilihan pada pihak pos, abaikan kabar yang berhembus kalo kantor pos payah pelayanannya.

Ane berkoordinasi dengan adek perempuan ane yang berada di Indonesia. Dari mengecek biaya pengiriman, barang-barang apa aja yang boleh dikirim atau pun terlarang, maksimal berat berapa kilogram hingga berapa hari sampai ke tempat tujuan.

Senangnya ane saat paket akhirnya diterima pihak kantor pos dan perjalanan paket ane pun dimulai. Kita juga menerima resi dan nomor yang bisa digunakan untuk melacak pengiriman kita dah sampai dimana.

Sehari, dua hari, seminggu rasanya dah ga sabaran menanti kiriman ane. Terbayang dimata ane akan menikmati hasil karya emak ane dengan bumbu-bumbu cintanya untuk ane anaknya yang tinggal di negeri orang.

Dua minggu belum juga ada tanda-tanda kiriman ane akan tiba di tujuan. Ane cek di web EMS, selalu masih tertambat di Jakarta. Mulai deh ane kepikiran. Apa ada yang salah dengan paket ane ya.. Apa tertahan di bea cukai, tapi apa yang musti ditahan dan diperiksa ya.. hanya kiriman makanan kampung kok.. Lain halnya kalo adek perempuan ane ngirim paket durian atau cempedak, mungkin dah kena sensor duluan. Baunya bikin seantero mabuk kepayang 😊

Demi kiriman yang seperti harta karun untuk ane dan tiada duanya ini, ane harus bersabar dan menahan diri. Kalo pun paket ini dikirim balik ke kampung halaman karena ada sesuatu yang membahayakan, ane ikhlas. Asal jangan seperti kemarin-kemarin dahulu yang merupakan hajat hidup ane yang ga sampai, bisa-bisa seumur hidup ane ga pernah menginjakkan kaki ke tanah Eropa dan menikah dengan belahan jiwa ane 😊 Ane akan berjuang sekuat tenaga meski harus mempertaruhkan reputasi ane 😊

Adek bilang seminggu kiriman dah sampai. Ealah talah, ini dah dua minggu dek kok masih mentok di Jakarta aja? Apa kerjaannya ya? Apa seperti pihak ekspedisi swasta yang kemarin-kemarin lalu menunggu kiriman-kiriman yang lain full dulu sampai berkilo-kilo seperti sistem borongan baru layak kirim? Aaaaa, ga ngerti ane

Minggu ke-4 ane kembali menanyakan hal ini ke adek ane dan menyarankannya menghubungi pihak pos bila terjadi hal-hal di luar dugaan. Di EMS ada keterangan nomor telpon yang bisa kita hubungi kalao kiriman kita bermasalah seperti datang terlambat. Tapi adek bilang telponnya ga diangkat. Ane jadi penasaran. Suami  bilang kiriman ane ga dikirim pihak pos Jakarta. Ane bilang kiriman mungkin disensor negaranya karena negara Eropa terkenal sangat ketat pemeriksaannya untuk barang-barang yang akan masuk ke negaranya

Akhirnya kiriman pun sampai ke Austria setelah 4 minggu yang berarti sebulan dari janji pihak terkait sampai dalam waktu seminggu. Emejing kata emak-emak now 🙂 Alhamdulillah ga apa-apalah. Yang penting kiriman sampai ke rumah dengan selamat. Kita lacak hari Jum’at melalui track record di web EMS Pos Indonesia ternyata kiriman sampai hari kamis, yang berarti Jum’at hari kita melacak InsyaAllah dikirim ke rumah. Tapi berhubung dah siang kiriman belum sampai di rumah. Sabtu mereka libur, minggu juga libur. Nah, berarti Senin dong.. Ternyata emang benar pemirsa hari Senin kiriman kita diantar pihak pos sampai rumah. Terima kasih ya 🙂

Bagaimana dengan nasib kiriman ane? Masihkah utuh dengan bentuk asli mereka mengingat perjalanan yang jauh dan melelahkan, manalagi menahan panas di musim panas ini. Oleh karena itulah disarankan jangan mengirim makanan basah dan yang segar-segar seperti buah dan sayuran kalo ga mau basi dan beranak pinak di paket. Kalo buah mungkin dah bukan buah lagi ya.. malah dah tumbuh tunas 🙂 Paket rusak biaya berjuta-juta melayang 🙂

Kiriman ane lengkap ga dibongkar, plesternya masih utuh melekat di setiap sudut kiriman. Hanya saja ada beberapa item yang melempem mungkin menahan perasaan 🙂 Sekali lagi terima kasih ya Pos 🙂

Jadi kesimpulannya pemirsa, bijaksanalah dalam memilih jasa pengiriman paket. Kalo untuk dokumen penting yang menyangkut hajat hidup pilihlah jasa pengiriman yang bereputasi internasional dan minim keluhan. Kalo mau sedikit santai dan dah tau resikonya seperti makanan dan lain-lain, diusahakan yang dikirim merupakan barang-barang yang awet yang tahan banting minimal sebulan, pakailah jasa Pak Pos, begitu juga kiriman uang kirim melalui Western Union, jangan lewat paket ya.. Apalagi pake jasa ekspedisi swasta. Dah banyak kejadian kiriman uang lenyap ga berbekas biar hanya seratus ribu rupiah dan ini juga dilarang untuk negara kita tercinta. Lain cerita kalo di Eropa, biar mau ratusan juta rupiah juga kiriman uang masih utuh dan sampai tujuan dengan selamat 🙂

Demikian pemirsa info ane kali ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua 🙂

Bir cevap yazın