Lama puasa hampir 18 jam di Austria tahun 2018 ini

476 Views

Bulan Ramadan ditunggu-tunggu umat muslim sedunia, termasuk ane dan suami. Berpuasa adalah kewajiban umat muslim sebagaimana telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab. Allah berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.“ (QS. Al Baqarah ayat 183)

Bagaimana rasanya berpuasa di bulan Ramadan di negeri orang ya. Rasanya campur aduk, pasti nano nano dirasakan umat muslim terutama yang berasal dari negara mayoritas muslim dan waktu puasanya stabil yaitu Indonesia, termasuk ane yang baru bermukim di Eropa. Agak kaget pasti. Kita yang terbiasa di Indonesia dengan aura Ramadannya tiba-tiba harus berhadapan dengan suasana Ramadan di negeri orang yang bahkan dianggap ga ada apa-apanya. Tapi ini yang malah menjadi ujian buat kita. Banyak faktor yang membuat Ramadan kali ini lebih bermakna. Dari jadwal puasanya, sahur dan berbuka, masjid, tarawih, sampai lingkungan sekitar dan kebiasaan orang-orangnya.

Dimulai dari jadwal puasa. Bulan Ramadan tahun ini bertepatan dengan hampir berakhirnya musim semi dan awal musim panas. Siang menjadi lebih lama daripada malam dan ini ikut mempengaruhi waktu berpuasa juga.  Awal puasa kemarin, subuh masih pukul 03.49 dan maghrib 20.30. Alhamdulillah awal puasa cuaca masih adem dan sejuk, angin bertiup sepoi sepoi manja kadang diselingi dengan datangnya hujan membasahi bumi meski hanya beberapa saat. Suhu pun hanya berkisar 16°C, seperti ngidupin AC aja kalo di kampung halaman 😊 Kebayang kan ademnya.. Meski waktu puasanya lama tapi kita ga terlalu merasakan lapar dan dahaga karena cuaca yang mendukung. Perasaan sama aja seperti berpuasa di Indonesia 😊 Jadi kita berpuasa saat itu hampir 17 jam.

Semakin bertambah hari semakin bertambah lama juga siangnya dan waktu puasa pun ikut lama juga. Dari waktu subuhnya yang semakin cepat dan hingga maghribnya yang semakin melambat. Kalo yang biasa di Indonesia melihat kenyataan ini mungkin takjub ya.. termasuk ane. Gimana bisa waktu loncat begitu banyak. Kalo di Indonesia kan paling 5 menit atau 10 menit bedanya itu pun baru berbulan-bulan perbedaannya. Kalo di Eropa bisa hanya dalam hitungan hari. Jadi kita harus sering-sering liat jadwal waktu sholat sih biar ga kecele 😊 Saat ini subuh pukul 03.30 dan maghrib pukul 21.00. Suhu juga mulai meningkat hingga pernah tercatat 25°C, berasa juga panasnya.. efek kebiasaan musim dingin kemarin 😊 Padahal di Indonesia suhu begini adalah suhu kamar yang sejuk pisan 😊Saat ini waktu puasa kita menjadi lebih dari 17 jam dan akan mendekati 18 jam di akhir-akhir Ramadan nanti.

Ini di Austria. Gimana dengan negara-negara tetangga dan negara-negara di belahan dunia lainnya ya? Jumlah jam puasa yang berbeda-beda antar negara tergantung pada wilayah geografisnya. Jumlah jam puasa di Timur Tengah antara 14 sampai dengan 15 jam, ga beda jauh dengan Afrika Utara. Di China hampir 16 jam. Di negara antara Asia dan Eropa seperti Turki hampir 17 jam. Agak dekat ke negara tetangga Austria, yaitu Belanda dan Belgia bisa mencapai 18 jam. Di kawasan Nordik yang mana matahari di lingkar Arktik hanya terbenam sekitar lebih kurang 1 jam, puasa bisa dijalani hingga 21 jam seperti di Swedia khususnya di kota Kiruna dan Tromso dan Norwegia, di Denmark bisa mencapai 20 jam. MasyaAllah. Nah di Brasil dan negara-negara bumi selatan seperti di Argentina dan Chile malah lebih sedikit dari Indonesia, sekitar 11 jam. Masyallah alhamdulillah. Kuasa Allah. Harus tetap selalu disyukuri ya..

Nah, sekarang gimana dengan sahur dan berbukanya? Jangan harap bisa dengar azan berkumandang dari masjid di sini, karena emang ga ada masjidnya. Jangan harap juga dengar ayam berkokok di sini menandakan malaikat datang atau malam syahdu untuk sahur ataupun subuh menjelang. Kalo di Indonesia biasanya menjelang buka kita bisa mendengar tauziah di tv ya, atau pun saling berbagi makanan buka puasa baik ke atau dari tetangga dan keluarga dan handai taulan. Makanannya juga bikin kangen, dari yang manis-manis untuk takjil seperti kolak, cendol dan aneka penganan lain serta yang asin seperti bakso dan empek-empek yang dimakan sesudah tarawih. Buka bersama keluarga sangat membahagiakan 😊

Kalo waktu sahur meski jaman dah canggih masih aja ada yang bangunin sahur di luar rumah atau pun melalui pengeras suara dari masjid. Menjelang subuh ada imsyak di tv yang menandakan siap-siap berpuasa, masih ada sisa waktu untuk sahur atau sekedar minum hingga azan berkumandang.. sambil dengar tauziah dan sholawat juga. Duh, kangen banget suasana begini yang ga pernah ane rasakan di Austria ini ☹Tapi alhamdulillah masih bisa dengar kumandang azan sehingga tau waktu sahur dan berbuka meski hanya lewat hp. Kita pake aplikasi Islam Pro untuk tau jadwal sholat sekaligus kumandang azan ini. Alhamdulillah juga bukanya sama suami tercinta meskipun ga ada acara bagi-bagi makanan dengan tetangga dan handai taulan seperti di kampung halaman.

Kalo bukanya jam 9 malam trus sahur sebelum jam setengah 4 subuh, gimana rasanya ya? Dengan waktu yang singkat ini, jangankan lapar, pencernaan kadang belum selesai bekerja alias masih kenyang😊 Karena kan kita kalo lagi ga malas makan, setelah tarawih pukul 11 malam ada kepengen makan cemilan juga 😊Masih mending kita yang waktu puasanya 17 jam. Lha kalo di Norwegia yang kabarnya bisa mencapai 21 jam gimana? Tapi biar bagaimana pun harus lagi-lagi alhamdulillah ya.

Sahur tetap harus dijalankan karena banyak berkahnya. Keberkahan dalam makan sahur dapat diperoleh dari banyak segi, yaitu mengikuti sunah nabi, takwa kepada Allah dengan beribadah, menambah semangat beramal dan mencegah ahlak yang buruk yang diakibatkan kelaparan, menjadi sebab bersedekah kepada siapa yang meminta saat itu atau berkumpul bersama dengannya untuk makan, membuatnya berzikir, berdoa pada waktu-waktu dikabulkannya doa, memperbaiki niat puasa bagi mereka yang melalaikannya sebelum tidur. Nah, sahur juga menjadi pembeda dengan puasa orang-orang sebelum kita, yaitu dari kalangan Ahli Kitab.
Dari ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu Rasullulah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) , “Pembeda antara puasa kita dengan puasanya Ahlul Kitab adalah makan sahur.“ (HR Muslim 1096).
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kamu meninggalkannya walaupun hanya meneguk seteguk air, karena Allah dan malaikatNya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.“
AllahuAkbar..

Kemudian bagaimana dengan tarawihnya? Tarawih di sini dimulai setelah sholat isya yang dimulai pukul 22.20 malam atau ampir setengah 11 malam. Kalo pemirsa yang tinggal di Indonesia malah sahur ya 😊 Nah, tarawih ini bikin kangen juga. Ga ada masjid di lingkungan tempat kita tinggal. Jadi kalo mau tarawih ya di rumah aja. Kangen banget dengan suasana tarawih di masjid. Dengar beduk mau azan dan azan, tarawih bersama dengan emak dan tetangga, nyimak bacaan-bacaan tarawih. Biasanya sewaktu ane di kampung halaman, tarawih ke masjid jalan kaki bersama emak ane. Pulangnya emak masih melakukan tadarusan dengan teman-temannya, ane pulang duluan dengan anak-anak tetangga jalan kaki, ga kuatir di malam hari tetap aman.

Lanjut lagi gimana berpuasa di lingkungan non muslim ya? Tentu berasa banget. Kita ga bisa nyalahin mereka-mereka yang makan minum secara terbuka di warung-warung atau resto ya, karena emang mereka non muslim ga menjalankan ibadah puasa ini. Yang bikin miris itu ada muslim turunan yang karena pergaulan dan jauh dari nilai-nilai Islam ikut ga berpuasa. Ga ada kesan yang dirasakan di bulan Ramadan ini. Sedih liat kenyataan ini, tapi apa mau dikata. Sad but true ☹ Seharusnya, dimana pun kita berada, ga lantas membuat kita kehilangan identitas. Orang tua sangat berperan penting membentuk karakter anak di rumah, sebelum ke lingkungannya. Hhhh.. belum lagi tingkah laku bule di musim panas ini, dari pergaulan bebas seperti cipok-cipokan ditengah keramaian yang dianggap normal atau pun memakai baju minimalis, bikin gerah aja. Aduh, harus kuat-kuat iman ya..

Kalo sudah begini, yang ada kita harus selalu istiqomah ya. Ga ada alasan untuk ga berpuasa.Kita harus mengetahui makna puasa dan Ramadan itu sendiri sebenarnya. Yang pasti puasa di negeri orang merupakan ujian bagi kita WNI. Tapi InsyaAllah amin semakin bertambah keyakinan dan keimanan kita.

 

Bir cevap yazın