Jalan-jalan menelusuri pusat kota Linz, Austria di musim semi

1.525 Views

Lama ga jalan-jalan menelusuri kota Linz, kalo sekedar lewat aja dan belanja emang sering. Tapi kalo jalan kaki yang awalnya bikin ane jera ga mau lagi ­čśŐ, ini yang kedua kali. Beneran saat itu ane kaget banget orang-orang pada hilir mudik jalan kaki ga ada capeknya. Lumayan ampir 2 km jalan kaki, jadi kalo bolak balik bisa 4 km ­čśŐ Ternyata emang budaya mereka suka jalan-jalan. Nah, kali ini ane lebih siap.

Mobil kita parkir di parkiran stasiun KA bawah tanah Haupftbahnhof. Soalnya ga ada tempat lain yang bisa parkir lama. Kalo mau di tepi jalan bisa juga sih, tapi tiap 15 menit harus ganti karcis di mesin parkir seperti mesin ATM. Ribet kan kalo tiap 15 menit musti lari ganti karcis ­čśŐ Kalo ga begitu ntar ditilang pak Polisi dan biayanya bisa bikin kantong jebol ­čśë

Pusat kotanya Linz dimulai dari stasiun KA Haupftbahnhof, yang mana di sini terdapat taman kota dan kantor OBB, yaitu kantor Jawatan Kereta Apinya Austria juga kantor Finanzamt, kantor Keuangan yang mengurus keuangan termasuk dokumen. Di kantor ini tempat suami ane melegalisir dokumen-dokumennya buat nikah ma ane ­čśŐ

Lanjut ke taman kotanya lagi yang lebih besar. Sepanjang taman kota ini ramai dengan aktivitas orang-orang, dari sekedar bersantai duduk di kursi taman hingga anak-anak yang bermain di taman bermain. Burung-burung pun ga kalah heboh turut meramaikan terbang kian kemari, kadang hinggap berkelompok karena ada yang kasih makanan. Jinak banget bahkan ada burung yang beriringan berjalan bersama kita ­čśŐ

Di sekitar taman kota ini biasanya terdapat bunga/kembang yang bermekaran beraneka warna. Tapi saat kita ke sini bunga-bunga yang lama dah tamat riwayatnya karena musim dingin ­čśŐ Sekarang sedang ditanam yang baru yang masih mungil-mungil lengkap dengan bunga-bunganya yang bermekaran.

Keluar dari taman kota kita ke jalan besar. Di sepanjang jalan di sisi kiri disediakan kursi panjang buat yang pengen istirahat atau sekedar duduk-duduk melihat pemandangan. Di seberangnya bangunan megah modern yang baru bergabung dengan bangunan tua.

Masih di pusat kota, kita sekarang di ujung jalan Landstrasse dan berjalan lagi menelusuri bangunan modern dan tua.

Ada bangunan bersejarah yang menjadi obyek wisata seperti Teater Maestro, di sebelahnya Martin Luther Church, Atrium City Center, Church of Carmelites, Church of the Ursuline Sister. Ada deretan restoran cepat saji dari McD, Turki, China sampai Subway. Subway di sini maksudnya restoran cepat saji juga seperti McD. Selain itu ada apotik, toko-toko dan mall yang menjual produk dengan merk terkenal seperti toko perhiasan Swarovski serta toko buku.Ada juga toko yang memajang pashmina, jilbab panjang kalo buat kita muslim, tapi kalo buat orang Eropa biasanya dililitin di leher sebagai aksesoris ­čśŐHarganya 6 Euro atau sekitar Rp.100.000 per lembar. WowÔÇŽ

Nah, akhirnya sekarang kita sampai juga ke alun-alunnya kota Linz, ibukota negara bagian Austria, Ober├Âsterreich, yang mewakili pusat kota Linz. Apa kabarnya musim semi ini? Ane lihat kesayangan ane kembang-kembang di dua taman di tengah alun-alun kota ini, yang dulu lebat sekarang berganti dengan yang baru ditanam dengan kembang-kembangnya yang masih mungil-mungil. Sama persis seperti di taman kota.

Ga apa-apa, lumayan nyenangin hati ­čśŐTempat ini hanya terpisah dari sungai Donau dengan bangunan jembatan Nibelungen di atasnya yang dibangun oleh tokoh Nazi, Hitler. Sungai terbesar kedua di Eropa setelah sungai Volga ini membelah kota Linz menjadi dua bagian.

Di sebelah utara alun-alun terdapat Br├╝kenkopfgeb├Ąude (Universitas Seni dan Desain Industri, disingkat Universitas Seni). Awalnya merupakan sekolah seni yang didirikan pada tahun 1947, salah satunya sebagai perpindahan budaya-budaya era Nazi sebelumnya. Sekolah ini menjadi Universitas Seni pada tahun 1973 dan pada tahun 1998 akhirnya meningkat menjadi Universitas Seni dan Desain Industri

Balai Kota Tua/ Altes Rathaus ada di sebelah timur alun-alun. Altes Rathaus adalah bekas balai kota Linz, ada di distrik Inner Stadt. Terletak di alun-alun dekat Rathausgasse. Meski dalam fungsinya benar-benar diganti oleh Balai Kota Baru, tetap saja ini tempat kerjanya walikota Linz, dewan kotamadya dan institusi lainnya. Bangunan tua ini pernah dibangun kembali setelah kebakaran tahun 1509. Fitur yang terlihat saat ini adalah jendela teluk barat laut (City Hall Tower). Balai Kota disatukan dengan bangunan tetangga pada tahun 1658-1659 dengan tambahan desain fasad yang masih ada. Pada tahun 1993-1997 bangunan ini benar-benar direnovasi.  Beberapa tempat dapat disewa untuk acara pribadi, seperti gedung dewan kota atau aula Renaisans.

Di Balai Kota terdapat Museum Linz Sejarah Kedokteran Gigi. Ini menunjukkan sejarah kedokteran gigi di Ober├Âsterreich. Pameran Linz Genesis (cabang museum kota Nordico) ditawarkan sampai tahun 2014 sebagai gambaran sejarah kota Linz, tapi ditutup karena alasan biaya.

Di tempat ini juga di depan Rathaus terdapat bangunan dengan balkon mungil, yang mana Hitler memproklamirkan Reich Jerman Raya (Gro├čdeutsches Reich) setelah Anschluss bersama Austria pada 12 Mei 1938.

Di sebelah barat alun-alun terdapat Hotel Wolfinger, merupakan hotel bintang tiga dan Kellertheater, yaitu gedung teater ruang bawah tanah. Linz Kellertheater adalah panggung kecil di distrik Inner Stadt Linz. Letaknya di alun-alun, rumah nomor 21. Selain itu terdapat Walker, yaitu kafe dan bar yang terletak di lantai pertama dengan rumah nomor 21 juga. Walker ada sejak tahun 2003. Menyajikan kuliner dengan menu kafe, Walker terkenal dengan sarapan dan burgernya. Pada musim panas, area makan outdoor tersedia di alun-alun utama.

Di tengah alun-alun utama kota Linz,┬á salah satu lapangan terindah di Austria ini juga terdapat Dreifaltigkeits-S├Ąule atau yang kalo diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Patung/ Kolom Trinity. Biasa disebut juga dengan Kolom Wabah, ini adalah simbol khas era Baroque. Dreifaltigkeits-S├Ąule berada di dekat Balai Kota/ Rathaus di latar belakang di sebelah kanan. Gereja di latar belakangnya adalah Katedral tua, tempat Anton Bruckner memainkan organ tersebut dari tahun 1855 sampai 1868.

Dreifaltigkeits-S├Ąule didirikan di Hauptplatz pada tahun 1723 di Liz, Austria. Bangunan ini dibuat untuk mengenang kejadian saat itu, pilar syukur untuk menyelamatkan dari bahaya perang (tahun 1704), api (tahun 1712) dan wabah pes (tahun 1713). Sepertinya untuk menyamarkan kesan ÔÇśhororÔÇś pada patung ini ga lupa di pinggirnya ditanam kembang-kembang yang apik dan cantik banget. Terdpat bangku-bangku tempat bersantai ria. Burung-burung di sini pun turut juga meramaikan suasana, hinggap di bangunan ini juga berbaur dengan pengunjung, kadang-kadang mengadakan atraksi terbang bersama berkelompok-kelompok.

Puas mengambil foto dan video kita lanjut lagi menelusuri luar alun-alun, yaitu ke jembatan Nibelungen. Sewaktu kemari beberapa bulan yang lalu, saat jalan-jalan di  jembatan ini sisi kirinya penuh dengan bunga-bunga, saat ini lagi ga ada karena efek musim dingin kemarin. Belum berasa tanda-tanda capek. Mungkin karena ramainya orang maupun kendaraan yang lalu lalang dan pemandangannya yang apik-apik ya bikin ane lupa ma capek. Sempat lihat pemandangan di sisi kiri kanan jembatan dengan kapal pesiarnya dan nun jauh di sana pegunungan yang menjulang tinggi dengan rumah-rumah penduduk.

Di ujung jembatan ini bagian kota Linz juga, terdapat Rathaus juga dan bangunan lainnya. Kereta Api khusus di rel jalan yang bukan rute jauh bernama stra├čenbahn melalui jembatan ini dari bukit Postlingberg kota Linz yang di seberang jembatan dan berakhir di stasiun alun-alun kota Linz.

Nah, ada kebiasaan orang Barat meletakkan gembok di jembatan dengan inisial nama, baik individu maupun pasangan. Dari gembok murahan sampai yang mehong harganya. Katanya sih ini gembok cinta biar cinta mereka awet ­čśŐ Hhhh.. ada-ada saja. Ane aja baru tau kali ini, dikasih tau suami ­čśŐ

Jalan-jalan lumayan jauh begini bagi ane yang ga biasa jalan jauh bikin lapar juga ­čśŐ Tapi emang saat itu waktunya makan sih. Ane teringat janji suami mau belanja di toko Asia. Ane bilang belanja dulu. Tapi suami jawab masih ada waktu, kita makan dulu. Ga mau ribet kalo belanja dulu nantinya musti nenteng belanjaan kian kemari. Ane percaya sih ma suami, orang sini emang selalu tepat waktu, hanya ane aja yang kuatir, maklum bawaan tanah air biasanya kan suka ngaret ­čśŐ

Di kota Linz ini kita tinggal pilih mau makan dimana. Kalo mau cepat ya makanan cepat saji, mau yang sandwich ala McD atau kebabnya Turki. Eh, dapat bonus lagi suami ngajakin makan es krim ­čśŐ

Selesai acara makan-makan akhirnya kita ke toko Asia. Senengnya.. ­čśŐ Lokasinya agak keluar dari jalur alun-alun sih, jadi ceritanya jalan kaki lagi nih. Aaaa.. ga apa-apa lah dah isi ÔÇśbahan bakarÔÇś juga buat tambah energi. Gimana keseruan belanja di toko Asia akan ane tulis di episode selanjutnya ­čśŐ

Saatnya kita pulang. Menelusuri pusat kota Linz lagi yang masih betah aja ramai karena siang di musim semi lebih panjang daripada musim sebelumnya. Kita menuju tempat parkiran di stasiun KA bawah tanah Haupftbahnhof. Saat kita mau bayar parkir di mesin parkir, mesin menunjukkan harga 7,2 Euro atau sekitar Rp.122.400, yang mana per setengah jamnya 1,2 Euro atau Rp.20.400. Wah.. jadi kita jalan-jalannya ke pusat kota Linz ini kurang lebih 3 jam. Kuat juga ane ya pemirsa ­čśŐ Alhamdulillah.

 

Bir cevap yaz─▒n