Harga sebuket tulip hingga Rp.116.000 di Austria, negara Eropa pertama tumbuhnya tulip.

487 Views

Salah satu ciri khas negara Austria adalah bunga-bunganya yang ada dimana-mana. Kita bisa liat di balkon bangunan, rumah penduduk atau perkantoran, di jendela, di sudut jalan, di bundaran taman, di taman kota, pinggir jalan bahkan di kuburan ­čśŐ

Kalo kita ke toko bunga, sebelum masuk di depan toko kita dah disambut bunga-bunga segar nan cantik. Apalagi saat musim semi dimulai sampai sebelum musim gugur. Mata bening dimanjain ma mahluk hidup yang satu ini. Di musim dingin ada juga sih, tapi hanya bunga-bunga yang tahan dengan cuaca ekstrim yang bertahan hidup dan ga di sembarang juga┬á tempat tumbuhnya. Kebanyakan sih mati suri ­čśë

Nah, pengecualian saat ane belanja ke supermarket. Untuk menarik perhatian pembeli, gerombolan bunga-bunga cantik sengaja diletakkan tepat saat kita memasuki supermarket. Kalo ane, sebelum menjelajah isi supermarket biasanya nyempatin dulu mampir sejenak ke segerombolan bunga-bunga ini kemudian memfoto mereka secepat kilat.

Eh, ternyata saat kita mau membayar belanjaan di kasir ada juga bunga-bunga cantik dipajang dekat meja berjalan tempat kita menanti giliran membayar belanjaan. Kali aja dengan melihat sekawanan yang cantik ini timbul minat menambah belanjaan. Hmmm, strategi pasar yang jitu, tertuju terutama untuk emak-emak yang emang seneng ma bunga dan mudah meleleh hati dan perasaan melihatnya atau mereka yang sedang dilanda romantis. Apalagi kalo akhir pekan, biasanya bunga-bunga ini laris manis.

Saat pertama kali melihat bunga-bunga ini, ane kira ini bunga plastik. Tapi suami bilang ini bunga hidup. Coba aja, katanya. Dan ane pun merangsek mendekat dan menyentuh mereka. Iya emang benar hidup­čśŐ Ga main bunga/kembang plastik ya.. Harganya bermacam-macam, dari bisa beli beras sekilo sampai mengalahkan harga sekilo daging. Macam-macam bunga yang ditawarkan di sini, yang ane tau aja dari mawar, anggrek, kembang kertas hingga tulip.

Nah, khusus tulip ane akan bahas tersendiri. Ane penasaran aja nih bunga yang identik dengan bunganya orang Belanda selalu ada sepanjang masa, selama ane di sini maksudnya. Selalu hadir di supermarket ini dan juga supermarket lainnya. Konon sejarahnya Austria adalah negara pertama tempat tumbuhnya tulip di Eropa sebelum akhirnya menyebar kemana-mana se antero Eropa,

Harga bunga tulip di sini ga mahal-mahal amat kok. Sebuket bunga tulip dihargai mulai dari 2,79 Euro atau Rp.46.000 dan 3,49 Euro atau Rp.58.000 sampai dengan 6,99 Euro atau sekitar Rp.116.000. Wow.. fantastis. Tapi ini masih ga ada apa-apanya bila dibanding masa keemasan tulip di abad lampau yang harganya bisa beli rumah mewah dan idup nyaman selama setengah tahun ­čśŐ

Sekarang, mari yuk kita kenalan ma tulip.

Klasifikasi Ilmiah

Kingdom : Plantae
Ordo : Liliales
Famili : Liliaceae
Subfamili : Lilioideae
Genus : Tulipa

Tulip (bahasa Latin: Tulipa) merupakan nama genus untuk 100 spesies tumbuhan berbunga yang termasuk kedalam keluarga Liliaceae. Tulip adalah tumbuhan tahunan berumbi yang tingginya antara 10-70 cm, daunnya berlilin, berbentuk sempit memanjang berwarna hijau nuansa kebiru-biruan dan bunganya berukuran besar terdiri dari 6 helai daun mahkota. Tulip hasil persilangan menghasilkan bunga berwarna tunggal, putih, merah, orange, kuning, hijau, biru, ungu atau bermacam kombinasi dan gradasi warna. Tulip menghasilkan biji-biji berbentuk bundar pipih yang dibungkus kapsul kering.

Seperti halnya bunga mawar, lili dan anggrek, tulip adlah tanaman bunga yang paling banyak dibudidayakan manusia.

Nama tulip diambil dari bahasa Turki ÔÇÜÔÇśtulban atau turbanÔÇś. Turban adalah kain yang dililit untuk menutup kepala. Turban itu berbentuk bulat. Bunga tulip juga berbentuk seperti turban.

Orang Turki adalah orang yang pertama menanam tulip. Waktu itu awal masa kekaisaran Turki Ottoman (1453-1922). Sebelumnya tulip hanyalah tanaman liar. Pada masa pemerintahan Sultan Ahmed III (1673-1736) beberapa pejabat ditugaskan untuk membudidayakan tanaman tulip. Pejabat-pejabat itu bertugas menilai bagus jeleknya berbagai jenis tulip. Mereka juga memberikan nama-nama yang indah. Masa pemerintahan Sultan Ahmed III ini disebut Era Bunga Tulip.

Pada awal abad ke-16, kekaisaran Turki Ottoman menaklukkan sebagian wilayah Hungaria, Sisanya dikuasai Austria. Turki membawa tulip ke Hungaria. Disana tulip berkembang dengan baik. Lalu bunga tulip dijadikan motif dalam seni lukis dan seni lainnya. Tempat pertama di Eropa yang mengolah tulip adalah Wina, bahkan sebelum bunga tulip akhirnya menjadi merk dagang dari belanda.

Pada akhir abad ke-17, seluruh wilayah Hungaria dikuasai Austria. Rakyat Hungaria bersatu membebaskan diri dari Austria. Mereka menganggap bunga tulip sebagai lambang yang paling pas untuk persatuan rakyat Hungaria. Tulip juga menjadi lambang perjuangan bangsa Hungaria untuk kemerdekaan. Sekarang, selain Hungaria, Belanda dan Turki juga menjadikan tulip sebagai bunga nasional.

Pengenalan tulip ke Eropa juga dihubungkan dengan Ogier de Busbecq, duta besar dari Ferdinand I, Kaisar Kekaisaran Romawi Suci kepada Sultan Turki, yang mengirim umbi tulip dan biji tulip pertama dan ke Wina Austria pada tahun 1554 dari Kekaisaran Ottoman. Umbi tulip segera didistribusikan dari Wina ke Augsberg, Antwerpen dan Amsterdam. Popularitas dan budidayanya di Provinsi Serikat (sekarang Belanda) umumnya dianggap telah dimulai dengan sungguh-sungguh sekitar tahun 1593 setelah ahli botani Flemish Carolus Clusius mengambil sebuah jabatan di Universitas Leiden dan mendirikan hortus academicus. Di sini tulip tumbuh dan berkembang biak dengan baik.

Bunga tulip saat itu dipandang oleh orang Eropa berbeda dengan bunga pada umumnya. Bunga tulip memiliki warna kelopak yang unik serta intim. Kemunculan bunga tulip juga bersamaan dengan bangkitnya perdagangan Belanda yang menapaki kejayaan setelah meraih kemerdekaan. Minat terhadap bunga tulip mendadak booming. Bunga tulip menjadi barang mewah. Harga tulip melonjak tajam. Para petani dipaksa membayar dengan harga tinggi. Banyak spekulan yang masuk ke pasar. Harga satu bunga tulip bisa mencapai 5000 gulden dan melejit 2 kali lipat  hingga 10.000 gulden pada tahun 1637. Harga segini dapat dipakai untuk memenuhi sandang, pangan dan papan warga Belanda selama setengah tahun atau membeli rumah mewah di kanal paling modis seantero Amsterdam, saat itu. Parahnya, tulip juga sempat digunakan untuk transaksi menjadi pengganti mata uang sehari-hari.

Puncak kemerosotan harga bunga tulip terjadi pada musim dingin 1636 sampai 1637. Sampai suatu ketika di awal Febuari 1637, harga tulip runtuh untuk pertama kalinya dan orang-orang tidak mampu membeli bunga tulip dengan harga rendah sekalipun. Permintaan seketika menghilang. Kejatuhan tulip membawa dampak beruntun ekonomi. Keuangan banyak orang terpuruk. Utang dimana-mana. Jatuhnya harga bunga tulip disebabkan oleh sikap irasional banyak orang dalam mengambil keputusan ekonomi. Tetapi ada juga yang menyebutkan  jatuhnya tulip karena kondisi perang yang berkecamuk. Fenomena yang menyertakan bunga tulip dari masa awal, keemasan hingga kejatuhannya disebut sebagai tulip mania.

Untuk mengenang kejayaannya serta kejatuhannya, orang Belanda baik yang bermukim di Belanda atau di negeri orang selalu menyertakan bunga tulip sebagai tanaman pokok mereka. Mereka juga memeliharanya di pekarangan rumah atau di kebun ataupun sebagai hiasan rumah.

Belanda setiap tahunnya mengirimkan bunga tulip untuk ditanam di kota Ottawa sebagai ucapan terimakasih kepada Kanada yang membebaskan Belanda dari Nazi Jerman dan sewaktu zaman pendudukan bermurah hati menyediakan tempat bermukim Ratu Juliana yang pada waktu itu masih puteri mahkota.

Musim mekar bunga tulip dimulai musim semi bulan Maret ini hingga April. Hmm, ga lama lagi ya. Bisa dolan-dolan nih ke kebun bunganya di Wina. Ga usah jauh-jauh sampai ke negeri Belanda kali. Ok deh, sampai jumpa lagi.

Bir cevap yaz─▒n