Anggur cantik ini di Manisa, Turki sekilo 3 TL atau 10 ribu rupiah ajaa

1.365 Views

Turki adalah salah satu negara yang menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung terutama dari tanah air beta. Seperti emak-emak yang pergi umroh, paket tambahannya salah satunya adalah wisata ke Turki. Termasuk ane dan suami jalan-jalan kesini. Emang ga salah pilih dah, Turki emang top markatop. Ga peduli negara ini sering bergejolak, ga mengurangi minat wisatawan kemari.

Ada banyak pilihan mo ke kota-kota mana aja yang terkenal indah-indah di Turki ini. Ane ma suami ke Manisa, provinsi sekaligus ibukota Manisa, di Turki. Dari Austria kalo langsung ke sini bisa tetapi ada hanya setiap hari Sabtu, menempuh perjalanan naik pesawat lebih kurang 2 jam 30 menit. Kalo mau dolan-dolan ke Istanbul dulu, kota yang terbesar di Turki juga bisa, naik pesawat hanya 2 jam, kemudian lanjut lagi naik pesawat ke kota Izmir. Dari Izmir jalan darat bermobil menempuh waktu 30 menit aja.
Ane membayangkan pertama kali Manisa adalah sebuah perkampungan, ga bedanya ama kampung halaman ane di Indonesia. Tapi ternyata dugaan ane salah. Kotanya ramai banget. Rumah-rumah disini adalah bangunan bertingkat, bahkan sampai delapan tingkat. Tiap bangunan ada milik pemerintah yang disediakan penduduk yang mau membeli atau menyewa, ada juga bangunan yang milik pribadi dijual atau disewakan pada penduduk. Jadi jika suatu bangunan ada 6 tingkat, masing-masing tingkat ada yang menyewa dan ada yang membeli.

Karena rata-rata model bangunan terutama untuk perumahan seperti itu, maka ga ada garasinya. Jangan heran kalo akhirnya mobil-mobil parkir di sisi jalan, siapa cepat dia dapat, sehingga membuat jalan semakin sempit. Kalo yang mau nyebrang juga musti berhati-hati. Di Turki ga sama kayak di Austria yang mana pejalan kaki adalah raja, jangan coba-coba ga noleh kiri kanan nyebrang di Turki kalo ga mo celaka 😊

Bangunan-bangunan di sini ampir sama kayak di Austria bertingkat-tingkat dan merupakan bangunan baru dan modern, kalo di Austria bangunan tua dan baru hampir sebanding, tetapi di Turki bangunan tua (baca: peninggalan jaman dulu) lebih terlihat jelas, terutama peninggalan kesultanan Utsmaniyah/Ottoman Turki. Bangunan-bangunan di sini rapat banget layaknya di kota metropolitan, padahal ini hanyalah sebuah kota. Ramainya orang di sini sama seperti di kota Wina Austria di alun-alun kotanya saat malam tahun baru

Deretan bangunan kiri kanan beragam mulai dari butik, mal, toko biasa, supermarket, apotik ,toko bakeri, es krim, sampai ke restoran-restoran yang menjual kebab dengan ciri khasnya daging panggang yang tersusun rapi berderet-deret, jadi kalo mau beli Döner kebab atau Dürüm kebab penjualnya tinggal iris daging yang digantung itu 😊

Di depannya ada kantor gubernur Valilik Binasi tempat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpidato kalo mampir ke kota ini, di mana lapangannya lumayan luas buat nampung penduduk yang mendengar pidatonya. Agak ke seberang kita bisa temui beberapa peninggalan masa kesultanan Utsmaniyah seperti masjid Muradiye dan kompleksnya, masjid Hatuniye dan kompleksnya, Yeni Han, 22 Sultanlar Türbesi dan banyak lagi .

Ada taman kota Ulu Park yang ramai pengunjung, di taman ini kita bisa temui pedagang souvenir, perlengkapan musim dingin seperti kaos kaki dan topi wol kuncup juga makanan, ada kolam renang yang luas nan cantik. Ada beberapa hotel yang menjulang tinggi, salah satunya hotel Looks recommanded buat yang mau nginap kalo kesini, karena kita bisa liat suasana kota dari atas bangunan ini sekaligus menatap gunung Spil yang menjulang tinggi cantik di depannya.

Rasa nasionalisme di sini tinggi banget. Kita bisa liat bendera Turki berkibar di mana-mana. Di puncak pegunungan, gedung, perumahan sampai di jalan-jalan.. dari yang hanya selebar serbet emak-emak di dapur hingga selebar 6 meter muat untuk bikin tenda camping😊 Kalo di Indonesia paling banter bendera berkibar di kantor-kantor pemerintahan atau kalo ga saat 17 Agustusan aja 😊
Penduduknya beragam dari yang tertutup sampai yang ala-ala Barat.. yang rambut pirang abal-abal sampai asli mudah ditemui di sini. Saat di Austria ane musti silent hp ane tiap keluar rumah, tapi di sini ane bebas ga silent hingga tau kalo bunyi azan di hp waktu shalat dah tiba.

Yang menarik saat jalan-jalan melalui toko-toko makanan, di depannya ane temui beragam buah-buahan lezat, segar nan murah meriah. Salah satunya anggur hitam. Üzüm kalo bahasa Turkinya, sekilo dihargai cukup 3 TL (Turkish Lira) ajah 😊setara ma 10 ribu rupiah. Kalo harga segini di kampung halaman ane ga perlu waktu lama, semenit aja dah ludes habis terjual. Maklum kalo di tempat ane sekilo anggur bisa mencapai paling murah sekilonya 50 ribu rupiah, itu anggur impor yang paling standar, kalo mo yang elit bisa 80 ribu sekilo. Turki emang surganya buah-buahan 😊

Ane selalu penasaran ma perkebunan anggurnya. Maklum lagi ya kalo di kampung halaman ane ga ada perkebunan anggur, bisa sih tumbuh tanaman anggurnya, tapi ga berbuah, musti disuntik ini itu dulu, makan biaya banyak mending ga nanam deh karena lebih besar pasak daripada tiang, emang tanahnya ga cocok. Kalo perkebunan lada maju dia, cocok tumbuh di kampung halaman ane. Sayang ya saat kita ke perkebunan anggur milik suatu perusahaan ini, musim panen telah usai, yang bersisa hanya pepohonannya aja yang dari jauh sekilas mirip perkebunan lada. Ga mo liat ane kecewa dah jauh-jauh kemari, sekuritinya kasih sekantong plastik anggur hijau mungil manis manjah 😊Makasih ya

Bir cevap yazın