Ada layar tancap di Eropa

659 Views

Ada layar tancap di Eropa? Ah, yang benar.. Layar tancap kan identik dengan kaum papa dan biasanya hanya ada di kampung-kampung yang ga ada bioskopnya, yang penontonnya berjubel-jubel dan kadang-kadang menonton dengan hebohnya bikin ramai suasana. Itu di Indonesia yang dengan semakin canggihnya teknologi sekarang dah mulai jarang ada. Tapi ni layar tancap ada di kota terbesar dan merupakan ibukota negara Austria lho, di Wina.

Saat itu ane lagi jalan-jalan sore ma suami di Stephansplatz, area terbesar di kota Wina. Untuk ke sini kita naik kereta api bawah tanah dari stasiun Westbahnhof, hanya 2 menit aja dari hotel kita menginap di area Längenfeltgasse. Canggihnya kereta api disini, sepertinya hanya sekejap mata dah sampai kita 😊

Stephansplatz merupakan pusat kota Wina yang ramai dengan aktivitas sepanjang hari, sangat semarak karena adanya pertunjukan jalanan dan iring-iringan turis yang lalu lalang baik lokal maupun mancanegara, yang menikmati alun-alun kotanya. Ane seperti terlelap karena kecil dibandingkan badan orang sini yang rata-rata tinggi besar. Tapi ga masalah, tetap lancar ane menyusuri jalan-jalan dikawasan ini. Tahan capek aja😊Ane perhatiin juga orang-orang yang lalu lalang disini ga ada capek-capeknya jalan. Padahal lumayan untuk menyusuri area ini yang rasanya ga ada habis-habisnya. Ternyata ya penduduk Wina itu gemar bejalan-jalan, baik di jalan utama, taman-taman maupun hutan wisata. Berbagai obyek wisata sengaja dirancang agar bisa menunjang kegiatan jalan-jalan, termasuk di Stephansplatz ini.

Disini kita temui banyak bangungan bersejarah yang sudah tua dan berkesan klasik, tapi tetap anggun dan elegan. Seperti Stephansdom (katedral St. Stephen), gereja gaya gothik yang terkenal dengan arsitekturnya menara selatan sebagai titik tertinggi katedral yang dikonstruksikan selama 65 tahun dari tahun 1368 sampai dengan tahun 1433. Bagian atapnya dihiasi oleh 230.000 ubin kaca berbentuk mozaik elang berkepala dua, merupakan simbol keluarga Habsburg yang pernah berkuasa. Sempat juga kita masuk ke dalamnya dan melihat peninggalan religius dan artistik. Tapi hanya sebentar karena ramai pengunjung, masuknya juga antri😊. Katedral bergaya gotik ini sering disebut juga oleh penduduk lokal dengan nama Steffl.

Lanjut kita menyusuri jalan. Karntner Strasse, pusat belanja dan jalan-jalan terbentang dari alun-alun Stephansplatz di depan katedral Stephansdom bersatu dengan Ringstrasse dekat Wiener Staatsoper (gedung opera Wina). Nah, saat kita lagi asik-asiknya jalan ternyata ada layar lebar di dinding bangunan (kayak tv besar) dan penonton yang duduk manis di kursi-kursi berderet beraturan yang memang telah disiapkan. Karena di ruang terbuka dan di jalan umum maka orang-orangpun lalu lalang tapi tetap ga mengganggu kenyamanan yang menonton. Kadang-kadang yang lalu lalang mendadak berhenti dan ikut menonton juga, termasuk kita, sekalian rehat ya😊Meskipun bahasa Jerman ane masih patah-patah, tapi ane larut menikmati opera ini. Sepertinya ini kisah upik abu gitu, jaman kerajaan dulu😊

Masih ada ga ya layar tancap begini di tanah air beta. Kalo di Indonesia yang begini dianggap kampungan. Tapi disini malah berseni😊Sebenarnya bagus juga lho diadakan, nonton bareng dan menyatu dari penduduk lokal maupun mancanegara, tanpa pandang SARA, tua muda, yang ga kenal jadi kenal, yang jarang ketemu jadi ketemu disini. Kalo mau bisa aja mereka malas datang dan menonton bareng disini, jaman canggih tinggal buka hp atau ke bioskop aja yang lebih tenang dan elit😊

Oh ternyata kita berada di depan gedung opera Wina, Wiener Staatsoper yang terlihat jelas di atas layar lebar. Pantesan ada layar tancap gratis… dan saat kita ke sini jalan-jalan sore tepat diakhir tahun memang ramai dan biasanya ada perayaan menampilkan berbagai kesenian seperti opera musik terbuka ini, teater, pertunjukan musik dan bakat. Perayaan terbesar di Wina diadakan dua kali dalam setahun, yaitu saat malam tahun baru dan pra paskah (Lent).

Jauh-jauh ke Eropa nemu layar tancap😊Kita ga lama menonton operanya, karena hari dah menjelang senja meski jam baru menunjukkan pukul 4 an, mana dingin juga ya di cuaca yang seperti berada di kulkas aja. Maklum ya darah Indonesia belum terbiasa sama yang dingin-dingin😉Sampai jumpa lagi layar tancap😊

Bir cevap yazın